Ternyata Hidup Tidak Harus Mewah untuk Merasa Bahagia, Ini Alasannya
Mengapa Hidup Sederhana Justru Bisa Membuat Hati Lebih Tenang?
Ilustrasi : Seorang wanita sedang menikmati secangkir kopi sambil merenung, bahwa hidup bahagia tidak harus mewah
Ada masa ketika kita berpikir bahwa hidup akan terasa lebih tenang kalau punya lebih banyak.
Lebih banyak uang.
Mempunyai pekerjaan yang bagus.
Mempunyai rumah yang besar.
Mempunyai kendaraan dengan harga mahal.
Bahkan mungkin lebih banyak pengakuan dari orang lain.
Pemikiran seperti itu sebenarnya cukup wajar.
Hampir setiap hari kita melihat orang lain memamerkan pencapaian, liburan, barang baru, tempat makan, rumah, pekerjaan, atau gaya hidup mereka.
Tanpa sadar, kita ikut membuat standar sendiri tentang seperti apa kehidupan yang dianggap berhasil.
Masalahnya, setelah mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, rasa puas itu sering kali tidak bertahan lama.
Dulu ingin membeli ponsel baru.
Setelah terbeli, beberapa bulan kemudian muncul model yang lebih bagus.
Dulu ingin mendapatkan pekerjaan dengan gaji lebih tinggi.
Setelah mendapatkannya, ternyata tanggung jawab dan tekanannya juga bertambah.
Dulu ingin punya rumah yang lebih besar.
Setelah rumahnya semakin besar, muncul pula biaya perawatan yang semakin banyak.
Akhirnya kita seperti terus berlari mengejar sesuatu yang selalu bergerak menjauh.
Di sinilah hidup sederhana mulai terasa menarik.
Hidup sederhana bukan berarti harus hidup kekurangan.
Bukan pula berarti seseorang tidak boleh memiliki barang bagus, menikmati makanan enak, pergi berlibur, atau mengejar kehidupan yang lebih baik.
Sederhana lebih kepada kemampuan untuk mengetahui mana yang memang kita butuhkan, mana yang hanya kita inginkan, dan mana yang sebenarnya kita kejar hanya karena ingin terlihat berhasil di mata orang lain.
Menariknya, ketika kebutuhan untuk terlihat hebat mulai berkurang, hati justru bisa terasa lebih ringan.
Hidup Sederhana Bukan Berarti Hidup Kekurangan
Kata "sederhana" terkadang disalahartikan sebagai hidup serba terbatas.
Padahal, sederhana dan kekurangan adalah dua hal yang berbeda.
Orang yang hidup sederhana belum tentu tidak punya uang.
Bisa saja dia mempunyai penghasilan yang cukup, tetapi memilih tidak menghabiskan semuanya untuk mengikuti gaya hidup orang lain.
Dia mungkin mampu membeli mobil mahal, tetapi merasa kendaraan yang sekarang masih cukup untuk digunakan.
Dia mungkin mampu mengganti ponsel setiap tahun, tetapi memilih menggunakan ponselnya sampai benar-benar tidak bisa digunakan.
Dia mungkin bisa makan di restoran mahal, tetapi lebih sering menikmati makanan sederhana bersama keluarga di rumah.
Bukan karena tidak mampu.
Melainkan karena dia merasa tidak semua hal harus dimiliki.
Di situlah letak perbedaannya.
Kesederhanaan bukan tentang seberapa sedikit yang kita punya, tetapi tentang seberapa sedikit hal yang sebenarnya kita perlukan untuk merasa cukup.
Dan rasa cukup inilah yang sering kali sulit ditemukan.
Mengapa Kita Sering Merasa Kurang?
Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain.
Misalnya, penghasilan kita sebenarnya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan.
Tetapi setelah melihat teman membeli kendaraan baru, kita mulai merasa tertinggal.
Rumah kita sebenarnya nyaman.
Namun setelah melihat rumah orang lain di media sosial, tiba-tiba rumah sendiri terasa biasa saja.
Pekerjaan kita sebenarnya tidak buruk.
Tetapi ketika melihat orang lain mendapatkan promosi, kita mulai merasa hidup kita tidak berkembang.
Padahal kita tidak benar-benar tahu kehidupan mereka secara keseluruhan.
Kita hanya melihat bagian yang mereka tunjukkan.
Media sosial membuat masalah ini semakin mudah terjadi.
Orang biasanya membagikan momen terbaik dalam hidupnya.
Jarang ada yang mengunggah foto ketika sedang bingung membayar tagihan, bertengkar dengan pasangan, gagal dalam pekerjaan, atau merasa khawatir dengan masa depan.
Akibatnya, kita membandingkan kehidupan nyata kita dengan potongan kehidupan terbaik orang lain.
Tidak heran kalau akhirnya kita merasa kurang.
Padahal mungkin kehidupan kita sebenarnya tidak seburuk yang kita pikirkan.
Semakin Banyak yang Dimiliki, Semakin Banyak yang Harus Dipikirkan
Memiliki lebih banyak memang bisa memberikan kenyamanan.
Tetapi setiap tambahan kepemilikan biasanya juga membawa tanggung jawab.
Punya kendaraan berarti ada biaya perawatan, pajak, bahan bakar, dan kemungkinan perbaikan.
Punya rumah lebih besar berarti ada lebih banyak bagian yang harus dirawat.
Punya banyak barang berarti membutuhkan tempat penyimpanan.
Punya pekerjaan dengan tanggung jawab lebih besar mungkin berarti penghasilan bertambah, tetapi waktu luang bisa berkurang.
Sekali lagi, bukan berarti semua itu buruk.
Yang perlu disadari adalah bahwa setiap pilihan mempunyai konsekuensi.
Kadang kita hanya melihat manfaatnya tanpa memikirkan beban yang ikut datang.
Contohnya sederhana.
Kita membeli sesuatu karena sedang ingin.
Saat pertama memilikinya, kita merasa senang.
Namun setelah beberapa minggu, barang tersebut hanya menjadi bagian dari isi rumah.
Yang tersisa justru cicilan atau pengeluaran yang harus dipikirkan setiap bulan.
Kalau pola seperti ini terus berulang, hidup bisa terasa penuh.
Bukan hanya penuh oleh barang, tetapi juga penuh oleh kewajiban.
Hidup Sederhana Bisa Mengurangi Beban Pikiran
Salah satu alasan hidup sederhana bisa terasa lebih tenang adalah karena kita mempunyai lebih sedikit hal yang perlu dikhawatirkan.
Bayangkan seseorang yang mempunyai banyak cicilan.
Setiap bulan ada tanggal pembayaran yang harus diingat.
Ada kebutuhan rumah tangga, biaya kendaraan, tagihan listrik, internet, makanan, dan berbagai pengeluaran lainnya.
Sementara orang lain mungkin mempunyai penghasilan yang tidak jauh berbeda, tetapi pengeluarannya lebih sederhana.
Bukan berarti orang kedua tidak punya masalah.
Masalah tetap ada.
Namun jumlah hal yang harus dipikirkan mungkin lebih sedikit.
Ketika kebutuhan finansial lebih terkendali, pikiran juga bisa mendapatkan ruang untuk beristirahat.
Kita tidak terus-menerus merasa harus mendapatkan lebih banyak hanya untuk mempertahankan gaya hidup yang sudah terlanjur tinggi.
Inilah salah satu bentuk ketenangan yang sering tidak terlihat.
Bukan kebahagiaan yang besar dan meledak-ledak.
Hanya perasaan bahwa hidup masih bisa dijalani tanpa terlalu banyak tekanan.
Ada Ketenangan dalam Merasa Cukup
"Merasa cukup" bukan berarti berhenti berkembang.
Ini bagian yang sering disalahpahami.
Kalau kita merasa cukup, bukan berarti kita tidak boleh punya cita-cita.
Kita tetap boleh ingin mempunyai pekerjaan yang lebih baik.
Tetap boleh menabung untuk rumah.
Tetap boleh membangun usaha.
Tetap boleh ingin meningkatkan penghasilan.
Tetap boleh mempunyai impian besar.
Bedanya, kita tidak menjadikan pencapaian tersebut sebagai satu-satunya alasan untuk merasa berharga.
Kita bisa berkata kepada diri sendiri:
"Saya ingin kehidupan yang lebih baik, tetapi saya juga menghargai kehidupan yang saya jalani sekarang."
Kalimat sederhana seperti ini bisa mengubah cara kita melihat kehidupan.
Kita tidak lagi mengejar masa depan sambil membenci keadaan sekarang.
Kita berjalan menuju sesuatu yang lebih baik sambil tetap menghargai apa yang sudah dimiliki.
Tidak Semua yang Mahal Membuat Hidup Lebih Bahagia
Ada barang mahal yang memang memberikan manfaat besar.
Ada juga barang murah yang justru sangat berarti.
Secangkir kopi sederhana di pagi hari mungkin tidak mahal.
Tetapi kalau diminum sambil duduk santai bersama orang yang kita sayangi, pengalaman itu bisa jauh lebih berharga daripada sesuatu yang mahal.
Makan bersama keluarga juga tidak harus di restoran mewah.
Terkadang nasi sederhana, lauk rumahan, dan obrolan ringan di meja makan justru menjadi kenangan yang paling lama diingat.
Begitu juga dengan waktu.
Banyak orang rela bekerja lebih keras untuk mendapatkan lebih banyak uang, tetapi akhirnya tidak punya waktu untuk menikmati hasilnya.
Di titik tertentu, kita perlu bertanya:
"Apakah saya benar-benar membutuhkan lebih banyak, atau sebenarnya saya membutuhkan lebih banyak waktu untuk menikmati hidup?"
Pertanyaan tersebut tidak mempunyai jawaban yang sama untuk semua orang.
Namun cukup penting untuk direnungkan.
Hidup Sederhana Membantu Kita Lebih Menghargai Hal Kecil
Ketika hidup tidak terlalu dipenuhi keinginan, hal-hal kecil bisa terasa lebih berarti.
Bangun pagi tanpa terburu-buru.
Minum teh sambil melihat suasana rumah.
Berjalan sebentar sore hari.
Mendengarkan cerita orang tua.
Bercanda dengan pasangan.
Bermain bersama anak.
Mengobrol dengan teman lama.
Tidur cukup setelah menyelesaikan pekerjaan.
Mungkin semuanya terlihat biasa.
Namun kehidupan sebenarnya memang terdiri dari banyak hal biasa.
Kita sering menunggu sesuatu yang besar untuk merasa bahagia, padahal sebagian besar hari kita justru diisi oleh hal-hal sederhana.
Kalau kita hanya menganggap momen besar sebagai sumber kebahagiaan, kita mungkin akan melewatkan banyak hal kecil yang sebenarnya menyenangkan.
Kesederhanaan membantu kita memperhatikan kembali hal-hal tersebut.
Mengurangi Keinginan yang Tidak Perlu
Bukan semua keinginan harus dituruti.
Ini bukan soal menolak kesenangan.
Kita tetap boleh membeli sesuatu yang kita sukai.
Namun sebelum membeli, mungkin kita bisa bertanya:
"Apakah saya benar-benar membutuhkan ini?"
"Kalau tidak membeli sekarang, apakah ada masalah?"
"Apakah saya membelinya karena memang perlu atau karena melihat orang lain memilikinya?"
Pertanyaan sederhana seperti itu bisa membantu kita mengambil keputusan dengan lebih sadar.
Kadang kita menemukan bahwa keinginan tersebut hanya muncul karena melihat iklan atau unggahan orang lain.
Setelah dipikirkan kembali, ternyata kita tidak terlalu membutuhkannya.
Uang yang tadinya hampir dikeluarkan akhirnya bisa disimpan untuk kebutuhan lain.
Bukan berarti kita harus menjadi orang yang sangat perhitungan.
Hanya lebih sadar terhadap pilihan sendiri.
Jangan Sampai Gaya Hidup Mengendalikan Kita
Gaya hidup seharusnya membantu kita menjalani kehidupan, bukan membuat kita terus mengejarnya.
Misalnya, seseorang mendapatkan kenaikan gaji.
Kemudian standar hidupnya ikut naik.
Dulu makan di tempat biasa sudah cukup.
Sekarang merasa harus makan di tempat yang lebih mahal.
Dulu ponsel lama masih nyaman digunakan.
Sekarang merasa harus selalu mengikuti model terbaru.
Dulu liburan sederhana sudah menyenangkan.
Sekarang merasa liburan harus terlihat menarik di media sosial.
Akhirnya, penghasilan naik tetapi rasa tenang tidak ikut naik.
Bahkan bisa jadi justru sebaliknya.
Karena kebutuhan semakin besar, seseorang merasa harus bekerja lebih keras lagi.
Siklus tersebut bisa terus berputar.
Hidup sederhana menawarkan pilihan lain: ketika penghasilan meningkat, tidak semuanya harus langsung digunakan untuk meningkatkan gaya hidup.
Sebagian bisa ditabung.
Sebagian bisa digunakan untuk keluarga.
Sebagian bisa dipakai untuk menikmati hidup.
Dengan begitu, kenaikan penghasilan benar-benar memberi ruang, bukan hanya menambah pengeluaran.
Rumah yang Sederhana Bisa Terasa Lebih Nyaman
Ketenangan juga bisa datang dari lingkungan tempat kita tinggal.
Rumah yang terlalu penuh dengan barang terkadang membuat pikiran ikut terasa penuh.
Barang menumpuk di meja.
Pakaian yang jarang digunakan memenuhi lemari.
Kardus lama disimpan bertahun-tahun.
Barang rusak masih disimpan dengan alasan "nanti mungkin diperbaiki".
Padahal semakin banyak barang, semakin banyak pula yang harus dirapikan.
Tidak perlu langsung membuang semuanya.
Kita bisa mulai perlahan.
Pilih barang yang benar-benar digunakan.
Simpan barang yang memang mempunyai nilai penting.
Sisihkan barang yang sudah tidak pernah digunakan.
Rumah tidak harus terlihat seperti rumah dalam majalah.
Yang penting terasa nyaman ketika kita berada di dalamnya.
Karena pada akhirnya, rumah adalah tempat untuk pulang, bukan tempat untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain.
Sederhana dalam Bergaul Juga Bisa Membuat Tenang
Kesederhanaan bukan hanya soal uang dan barang.
Cara kita bergaul juga bisa dibuat lebih sederhana.
Kita tidak harus mempunyai banyak teman.
Kita tidak harus selalu hadir dalam semua acara.
Kita tidak harus memaksakan diri mengikuti semua tren.
Kita juga tidak harus selalu menjelaskan kehidupan kepada orang lain.
Ada kalanya kita cukup mempunyai beberapa orang yang bisa diajak berbicara dengan nyaman.
Orang yang tidak membuat kita merasa harus berpura-pura.
Orang yang bisa menerima kita ketika sedang tidak baik-baik saja.
Hubungan seperti itu sering kali jauh lebih menenangkan daripada memiliki banyak kenalan tetapi terus merasa harus menjaga citra.
Belajar Tidak Terlalu Peduli dengan Penilaian Orang
Salah satu beban terbesar dalam hidup adalah keinginan untuk terlihat baik di mata orang lain.
Kita membeli sesuatu agar dianggap berhasil.
Kita bekerja terlalu keras agar dianggap hebat.
Kita mengikuti tren agar tidak dianggap ketinggalan.
Kita terkadang bahkan memaksakan diri tersenyum ketika sebenarnya sedang lelah.
Padahal orang lain juga sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing.
Apa yang kita pikirkan sebagai sesuatu yang sangat diperhatikan orang lain mungkin sebenarnya hanya kita sendiri yang memikirkannya.
Ketika kita mulai melepaskan kebutuhan untuk selalu mendapatkan pengakuan, hidup bisa terasa lebih ringan.
Kita mulai melakukan sesuatu karena memang sesuai dengan kebutuhan dan nilai yang kita percaya, bukan sekadar untuk mendapatkan komentar positif.
Hidup Sederhana Tidak Harus Dilakukan Sekaligus
Kalau selama ini terbiasa hidup konsumtif, tentu tidak mudah mengubah semuanya dalam satu hari.
Tidak perlu.
Mulailah dari satu hal kecil.
Misalnya, selama satu bulan mencoba mencatat pengeluaran.
Atau berhenti membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
Bisa juga mengurangi kebiasaan membuka aplikasi belanja hanya karena sedang bosan.
Cobalah memasak di rumah beberapa kali dalam seminggu.
Rapikan kamar secara perlahan.
Kurangi barang yang sudah tidak digunakan.
Sisihkan sedikit uang sebelum membelanjakannya.
Luangkan waktu tanpa ponsel.
Tidak perlu langsung menjadi orang yang hidup serba minimalis.
Yang penting kita mulai menyadari apa yang benar-benar membuat kehidupan menjadi lebih baik.
Buat Versi Sederhana dari Kehidupan yang Kita Inginkan
Setiap orang mempunyai definisi hidup nyaman yang berbeda.
Bagi seseorang, hidup nyaman mungkin berarti mempunyai rumah sendiri.
Bagi orang lain, mungkin cukup mempunyai tempat tinggal sederhana dengan keluarga.
Ada yang merasa bahagia ketika mempunyai bisnis.
Ada yang justru lebih nyaman bekerja dengan jam kerja yang teratur.
Ada yang suka bepergian.
Ada pula yang lebih senang menghabiskan waktu di rumah.
Tidak ada satu bentuk kehidupan yang cocok untuk semua orang.
Karena itu, daripada bertanya:
"Bagaimana supaya hidup saya terlihat berhasil?"
Mungkin lebih baik bertanya:
"Seperti apa kehidupan yang sebenarnya ingin saya jalani?"
Jawabannya bisa sangat sederhana.
Bisa jadi kita hanya ingin pekerjaan yang cukup, keluarga yang sehat, waktu untuk beristirahat, keuangan yang tidak terlalu berantakan, dan lingkungan yang membuat nyaman.
Kalau memang itu yang kita inginkan, tidak perlu memaksakan diri mengejar standar kehidupan orang lain.
Jangan Menganggap Kesederhanaan Sebagai Alasan untuk Berhenti Berkembang
Hidup sederhana bukan alasan untuk malas.
Kita tetap perlu belajar.
Tetap perlu bekerja.
Tetap perlu memperbaiki kesalahan.
Tetap perlu merencanakan masa depan.
Tetap perlu meningkatkan kemampuan kalau memang dibutuhkan.
Perbedaannya adalah kita tidak lagi merasa harus memiliki semuanya sekaligus.
Kita bisa berkembang dengan tenang.
Mengejar penghasilan yang lebih baik tanpa harus mengorbankan seluruh waktu.
Membangun karier tanpa harus membenci pekerjaan sekarang.
Menabung tanpa membuat hidup terasa seperti hukuman.
Menikmati hasil kerja tanpa menghabiskan semuanya.
Mempunyai impian tanpa merasa gagal hanya karena belum mencapainya hari ini.
Menurut saya, di situlah kesederhanaan menjadi menarik.
Ia bukan tentang berhenti.
Ia tentang mengetahui kapan harus berjalan, kapan harus berhenti sebentar, dan kapan harus mengatakan, "Untuk sekarang, ini sudah cukup."
Kapan Terakhir Kali Kita Benar-Benar Menikmati Hidup?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana.
Tetapi coba pikirkan.
Kapan terakhir kali kita makan tanpa sibuk melihat ponsel?
Kapan terakhir kali kita duduk tanpa memikirkan pekerjaan?
Kapan terakhir kali kita berbicara dengan keluarga tanpa terburu-buru?
Kapan terakhir kali kita menikmati sesuatu tanpa merasa harus mengunggahnya?
Kapan terakhir kali kita merasa cukup tanpa membandingkan diri dengan orang lain?
Kalau jawabannya sudah lama, mungkin bukan kehidupan yang harus dibuat semakin ramai.
Mungkin kita justru perlu menguranginya sedikit.
Mengurangi hal yang tidak perlu.
Mengurangi keinginan untuk selalu terlihat berhasil.
Mengurangi kebiasaan membandingkan diri.
Mengurangi barang yang tidak digunakan.
Mengurangi pengeluaran yang sebenarnya tidak penting.
Dan mungkin yang paling sulit, mengurangi tekanan dari diri sendiri.
Tidak Semua Hari Harus Istimewa
Kita hidup di zaman yang sering membuat kita merasa harus terus produktif.
Setiap hari harus menghasilkan sesuatu.
Harus berkembang.
Harus punya pencapaian.
Harus terlihat bahagia.
Padahal ada hari ketika kita hanya ingin menjalani rutinitas biasa.
Bangun.
Bekerja.
Makan.
Beristirahat.
Mengobrol.
Tidur.
Dan itu tidak masalah.
Tidak semua hari harus menghasilkan cerita besar.
Ada hari yang memang hanya perlu dilewati dengan tenang.
Kehidupan bukan kumpulan pencapaian saja.
Ada juga hari-hari biasa yang diam-diam membentuk kehidupan kita.
Rasa Tenang Tidak Selalu Datang dari Memiliki Lebih Banyak
Pada akhirnya, hidup sederhana bukan tentang siapa yang memiliki paling sedikit.
Bukan juga tentang siapa yang mampu bertahan dengan pengeluaran paling kecil.
Kesederhanaan lebih dekat dengan kemampuan untuk memilih.
Memilih mana yang penting.
Memilih mana yang bisa ditunda.
Memilih mana yang tidak perlu.
Memilih lingkungan yang membuat kita nyaman.
Memilih menggunakan waktu untuk hal yang berarti.
Dan memilih untuk tidak menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran kehidupan sendiri.
Mungkin kita tidak bisa mengendalikan semua masalah yang datang.
Kita tetap akan menghadapi pekerjaan yang melelahkan.
Ada tagihan yang harus dibayar.
Ada hubungan yang kadang tidak berjalan sesuai harapan.
Ada rencana yang gagal.
Ada masa ketika kondisi keuangan tidak baik.
Ada hari ketika hati terasa berat.
Hidup sederhana tidak membuat semua masalah tersebut hilang.
Tetapi setidaknya, kita tidak perlu menambah masalah baru hanya demi memenuhi keinginan yang sebenarnya tidak terlalu penting.
Rangkuman:
Sederhana Bukan Berarti Menyerah
Kalau dirangkum, hidup sederhana bisa membantu kita merasa lebih tenang karena beberapa alasan:
Kita tidak terlalu sibuk mengejar pengakuan orang lain.
Pengeluaran lebih mudah dikendalikan.
Kita memiliki lebih sedikit hal yang harus dipikirkan.
Kita belajar membedakan kebutuhan dan keinginan.
Kita lebih mudah menikmati hal-hal kecil.
Kita tidak terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain.
Kita mempunyai lebih banyak ruang untuk keluarga, istirahat, dan diri sendiri.
Kita bisa mengejar tujuan tanpa harus memaksakan gaya hidup.
Kita belajar menghargai apa yang sudah dimiliki.
Kita memahami bahwa hidup tidak harus terlihat hebat untuk terasa berarti.
Semua itu tentu tidak otomatis membuat kehidupan menjadi sempurna.
Namun mungkin memang bukan kesempurnaan yang kita cari.
Mungkin yang kita butuhkan hanyalah kehidupan yang terasa cukup nyaman untuk dijalani.
Sering Menjadi Pertanyaan Netizen Atau Pembaca
1. Apakah hidup sederhana berarti harus hidup miskin?
Tidak. Hidup sederhana berbeda dengan hidup kekurangan.
Seseorang bisa memiliki penghasilan besar tetapi tetap menjalani gaya hidup sederhana dengan mengatur pengeluaran dan tidak membeli sesuatu hanya demi gengsi.
2. Apakah hidup sederhana berarti tidak boleh membeli barang mahal?
Tentu boleh.
Jika barang tersebut memang dibutuhkan, mampu dibeli tanpa mengganggu keuangan, dan memberikan manfaat, tidak ada masalah.
Kesederhanaan lebih berkaitan dengan kesadaran dalam memilih, bukan larangan membeli barang mahal.
3. Bagaimana cara mulai hidup sederhana?
Mulailah dari hal kecil.
Catat pengeluaran, kurangi pembelian impulsif, rapikan barang yang tidak digunakan, dan tentukan apa yang benar-benar penting bagi kehidupan kita.
4. Apakah hidup sederhana bisa membuat kita lebih bahagia?
Kesederhanaan tidak menjamin seseorang selalu bahagia.
Namun mengurangi tekanan finansial, kebiasaan membandingkan diri, dan keinginan yang tidak perlu dapat membantu menciptakan kehidupan yang lebih ringan bagi sebagian orang.
5. Apakah hidup sederhana berarti harus berhenti mengejar kesuksesan?
Tidak. Kita tetap bisa mengejar karier, membangun usaha, meningkatkan penghasilan, atau mempunyai impian besar. Yang berubah adalah cara kita mengejarnya.
Kita tidak harus mengorbankan seluruh ketenangan hanya demi terlihat berhasil.
Penutup
Mungkin selama ini kita terlalu sering mengira bahwa hidup akan menjadi tenang setelah mendapatkan sesuatu.
Setelah punya uang lebih banyak.
Setelah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Setelah membeli rumah.
Setelah mempunyai kendaraan baru.
Setelah mencapai target tertentu.
Padahal setelah satu tujuan tercapai, biasanya muncul tujuan berikutnya.
Tidak ada yang salah dengan memiliki impian.
Justru impian bisa membuat hidup terasa lebih terarah.
Tetapi di tengah usaha mengejar kehidupan yang lebih baik, jangan sampai kita lupa menikmati kehidupan yang sedang dijalani sekarang.
Sesekali tidak apa-apa berhenti sebentar.
Menikmati makanan sederhana.
Berbicara dengan orang yang kita sayangi.
Merapikan rumah.
Berjalan sore.
Menikmati waktu tanpa harus mengabadikannya.
Atau sekadar duduk dan menyadari bahwa ternyata banyak hal dalam hidup yang sudah cukup baik.
Barangkali ketenangan memang bukan selalu tentang mendapatkan lebih banyak.
Kadang-kadang, ketenangan justru muncul ketika kita mulai menyadari bahwa tidak semua hal harus kita miliki.
Tidak semua orang harus menyukai kita.
Tidak semua pencapaian harus segera diraih.
Dan tidak semua kehidupan harus terlihat hebat.
Pada akhirnya, hidup sederhana bukan berarti kita harus berhenti punya impian atau tidak boleh menginginkan kehidupan yang lebih baik.
Sederhana hanya mengajarkan kita untuk menikmati apa yang sudah ada, sambil tetap berjalan pelan-pelan menuju apa yang kita inginkan.
Kadang, kebahagiaan memang tidak datang dari sesuatu yang besar.
Bisa saja ia hadir dari secangkir kopi di pagi hari, obrolan ringan bersama orang tersayang, tidur yang cukup, atau hati yang tidak lagi sibuk membandingkan diri dengan kehidupan orang lain.
Mungkin kita tidak bisa mengendalikan semua hal dalam hidup, tetapi kita masih bisa memilih apa yang layak untuk dikejar dan apa yang sebaiknya dilepaskan.
Kalau kamu sendiri, hal sederhana apa yang akhir-akhir ini membuat hidup terasa lebih tenang dan menyenangkan?
Ceritakan di kolom komentar. Barangkali pengalaman kecilmu bisa menjadi pengingat atau inspirasi bagi orang lain yang sedang belajar menikmati hidup dengan lebih sederhana.
Terima kasih.
Posting Komentar