“Mengapa Karyawan Rajin Justru Sering Mendapat Banyak Beban Kerja? Ini Alasan yang Jarang Disadari”

Daftar Isi
Karyawan rajin mendapat banyak tugas tambahan di tempat kerja
Ilustrasi: Menjadi karyawan yang rajin dan bisa diandalkan memang baik, tetapi tetap perlu mengetahui batas kemampuan agar beban kerja tidak berlebihan.

Mengapa Karyawan Rajin Justru Sering Mendapat Banyak Beban Kerja?

Pernah tidak kalian ketika kerja merasa begini? 

Setiap kali ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan, nama kita yang dipanggil. 

Ketika ada tugas tambahan, kita yang diminta membantu. 

Saat rekan kerja sedang tidak masuk, kita lagi yang dipercaya untuk mengambil alih pekerjaannya.

Awalnya mungkin terasa menyenangkan.

Kita merasa dipercaya oleh atasan. 

Ada rasa bangga karena dianggap bisa diandalkan. 

Kita juga mungkin berpikir bahwa kerja keras seperti ini nantinya akan membawa sesuatu yang baik untuk karier.

Namun, lama-kelamaan muncul pertanyaan yang sulit diabaikan.

“Kenapa semakin rajin saya bekerja, semakin banyak pekerjaan yang diberikan?”

Sementara itu, ada rekan kerja yang pekerjaannya terlihat lebih ringan. 

Mereka pulang tepat waktu, jarang mendapat tugas tambahan, bahkan terkadang masih bisa bersantai ketika kita sedang sibuk mengejar deadline.

Situasi seperti ini cukup membuat frustrasi.

Apalagi kalau tambahan pekerjaan tersebut tidak diikuti dengan penghargaan, kenaikan gaji, kesempatan berkembang, atau sekadar ucapan terima kasih.

Namun, sebelum menyimpulkan bahwa menjadi karyawan rajin adalah sebuah kesalahan, ada baiknya kita melihat persoalan ini dari beberapa sisi.

Sebab, menjadi orang yang rajin bukan masalah. 

Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai kerajinan kita membuat orang lain menganggap bahwa kita selalu siap menerima pekerjaan apa pun.

Rajin dan Bisa Diandalkan Itu Berbeda dengan Selalu Bersedia

Menjadi karyawan yang rajin tentu merupakan hal positif.

Orang yang rajin biasanya menyelesaikan tugas dengan serius, berusaha datang tepat waktu, menjaga kualitas pekerjaan, dan tidak mudah menghindar ketika mendapatkan tanggung jawab.

Masalah mulai muncul ketika kerajinan tersebut berubah menjadi kebiasaan untuk selalu mengatakan “iya”.

Ada pekerjaan tambahan?

“Iya, saya kerjakan.”

Rekan kerja meminta bantuan?

“Iya, saya bantu.”

Ada pekerjaan mendadak?

“Baik, saya selesaikan.”

Awalnya hanya satu atau dua kali. 

Tetapi lama-kelamaan pola tersebut bisa terbentuk.

Atasan akhirnya memiliki gambaran bahwa kita adalah orang yang selalu bisa diandalkan.

Ketika ada pekerjaan yang harus segera selesai, kita menjadi salah satu orang pertama yang terpikirkan.

Ini bukan berarti atasan selalu berniat memanfaatkan kita. Bisa saja dari sudut pandang mereka, kita memang dianggap mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

Di sinilah pentingnya membedakan antara menjadi karyawan yang dapat diandalkan dan menjadi karyawan yang selalu menerima semua pekerjaan.

Keduanya terlihat mirip, tetapi dampaknya bisa sangat berbeda.

Mengapa Karyawan Rajin Sering Mendapat Banyak Beban Kerja?

Ada beberapa alasan yang cukup masuk akal mengapa hal tersebut bisa terjadi.

1. Karena Pekerjaan Kita Lebih Sering Selesai Tepat Waktu


Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sangat berpengaruh.

Bayangkan seorang atasan memiliki dua orang karyawan.

Karyawan pertama biasanya menyelesaikan pekerjaan sesuai jadwal. Kalau ada masalah, dia memberi tahu lebih awal.

Karyawan kedua sering terlambat menyelesaikan tugas dan membutuhkan banyak pengingat.

Ketika muncul pekerjaan baru yang harus selesai dalam waktu singkat, siapa yang kemungkinan besar akan dipilih?

Secara alami, orang pertama terlihat lebih aman untuk diberi tanggung jawab.

Bukan karena dia harus dihukum karena rajin, tetapi karena rekam pekerjaannya membuat orang lain percaya bahwa pekerjaan tersebut akan selesai.

Masalahnya, kalau hal ini terjadi berulang kali tanpa pengaturan beban kerja, orang yang rajin bisa akhirnya menanggung terlalu banyak pekerjaan.

2. Atasan Sudah Terlanjur Percaya


Kepercayaan di tempat kerja adalah sesuatu yang bernilai.

Ketika seorang karyawan sudah beberapa kali membuktikan bahwa dia bisa menyelesaikan tugas dengan baik, atasan biasanya akan lebih percaya kepadanya.

Namun, kepercayaan memiliki sisi lain.

Semakin dipercaya, terkadang semakin banyak tanggung jawab yang diberikan.

Misalnya, hari ini dipercaya mengurus laporan. 

Besok diminta membantu presentasi. Minggu berikutnya diminta menggantikan rekan kerja yang sedang cuti.

Kalau kita selalu menerima tanpa menyampaikan kapasitas yang sebenarnya, atasan mungkin tidak menyadari bahwa pekerjaan kita sudah terlalu banyak.

Akhirnya muncul keadaan yang cukup ironis:

Semakin baik kita bekerja, semakin banyak pekerjaan yang datang.

3. Karena Kita Jarang Mengatakan “Tidak”

Ini salah satu penyebab yang paling sering terjadi.

Banyak orang menganggap mengatakan “tidak” di tempat kerja sebagai sesuatu yang buruk.

Takut dianggap malas.

Takut dianggap tidak loyal.

Takut dianggap tidak mampu bekerja sama.

Akhirnya semua permintaan diterima.

Padahal mengatakan “tidak” tidak selalu berarti menolak pekerjaan.

Kita bisa menyampaikan kondisi dengan cara yang profesional.

Misalnya:

“Saya bisa membantu pekerjaan itu, tetapi saat ini saya sedang menyelesaikan laporan yang harus selesai sore ini. 

Kalau pekerjaan ini bisa dikerjakan setelah laporan selesai, saya siap membantu.”

Kalimat seperti itu berbeda dengan sekadar berkata, “Saya tidak mau.”

Kita tetap menunjukkan kesediaan membantu, tetapi juga memberikan batas yang jelas.

4. Karyawan Rajin Sering Dianggap Lebih Mampu

Ada satu hal yang terkadang tidak kita sadari.

Ketika kita terbiasa mengerjakan sesuatu dengan cepat dan rapi, orang lain mungkin menganggap bahwa pekerjaan tersebut memang mudah bagi kita.

Padahal kenyataannya belum tentu.

Mereka hanya melihat hasil akhirnya.

Mereka tidak melihat waktu yang kita gunakan, energi yang terkuras, atau pekerjaan lain yang sedang kita tangani.

Misalnya seseorang selalu mampu menyelesaikan laporan sebelum deadline.

Atasan kemudian memberikan dua laporan sekaligus.

Bukan berarti kemampuan orang tersebut meningkat dua kali lipat.

Tetapi dari sudut pandang atasan, mungkin terlihat bahwa dia memiliki kapasitas lebih.

Inilah mengapa komunikasi mengenai beban kerja sangat penting.

5. Kita Terlalu Ingin Membuktikan Diri

Ada juga orang yang memang memiliki kebiasaan mengambil terlalu banyak pekerjaan karena ingin menunjukkan bahwa dirinya mampu.

Terutama bagi karyawan baru.

Mereka ingin memberikan kesan positif kepada atasan.

Tidak ingin terlihat banyak mengeluh.

Tidak ingin kalah dari rekan kerja.

Akhirnya semua tugas diterima.

Pada awalnya mungkin berhasil.

Tetapi jika pola tersebut terus dilakukan, tubuh dan pikiran bisa kelelahan.

Yang lebih berbahaya, standar orang lain terhadap kita ikut berubah.

Jika sejak awal kita mampu menyelesaikan sepuluh pekerjaan dalam kondisi tertentu, orang mungkin menganggap sepuluh pekerjaan tersebut adalah kemampuan normal kita.

Ketika suatu hari kita hanya mampu menyelesaikan enam, kita justru dianggap mengalami penurunan.

Padahal sebenarnya kita sedang kembali ke batas kemampuan yang lebih wajar.

6. Pembagian Pekerjaan di Tim Memang Tidak Selalu Seimbang

Tidak semua masalah berasal dari diri karyawan.

Kadang memang ada masalah dalam pembagian pekerjaan.

Dalam sebuah tim, kemampuan setiap orang berbeda. 

Ada yang cepat mengerjakan sesuatu, ada yang membutuhkan waktu lebih lama. 

Ada yang memiliki pengalaman lebih banyak, ada yang masih belajar.

Jika pembagian pekerjaan tidak dikelola dengan baik, karyawan yang kompeten bisa mendapatkan lebih banyak pekerjaan.

Dalam jangka pendek mungkin terlihat efektif.

Tetapi dalam jangka panjang, keadaan tersebut bisa membuat karyawan tertentu mengalami kelelahan sementara anggota tim lainnya tidak mendapatkan kesempatan berkembang.

Karena itu, pembagian tugas seharusnya tidak hanya melihat siapa yang paling cepat menyelesaikan pekerjaan.

Tetapi juga perlu mempertimbangkan kapasitas, tanggung jawab, waktu, dan pemerataan kesempatan belajar.

Apakah Karyawan Rajin Harus Berhenti Rajin?

Tentu tidak.

Yang perlu diubah bukan kerajinannya, tetapi cara mengelola kerajinan tersebut.

Rajin tetap merupakan sikap yang baik.

Namun, rajin tidak berarti harus selalu mengorbankan diri.

Ada perbedaan antara:

  • bekerja dengan tanggung jawab,
  • bekerja melebihi kapasitas,
  • dan terus menerima pekerjaan karena takut mengecewakan orang lain.

Ketiganya sering terlihat sama dari luar, padahal sebenarnya berbeda.

Karyawan yang baik bukan hanya orang yang mampu menyelesaikan banyak pekerjaan.

Dia juga perlu tahu kapan harus meminta bantuan, kapan harus menyampaikan kendala, dan kapan harus menetapkan batas.

Bagaimana Agar Tidak Terus-Menerus Mendapat Beban Kerja Berlebihan?


Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba.

1. Ketahui Kapasitas Diri

Sebelum menerima pekerjaan baru, lihat terlebih dahulu pekerjaan yang sedang berjalan.

Jangan hanya berpikir:

“Saya bisa mengerjakan.”

Tanyakan juga:

“Kapan pekerjaan ini harus selesai?”

“Apakah saya masih memiliki waktu?”

“Apa dampaknya terhadap pekerjaan yang sedang saya kerjakan?”

Pertanyaan sederhana ini dapat membantu kita mengambil keputusan dengan lebih rasional.

2. Jangan Selalu Menjawab “Siap” Secara Spontan


Ketika mendapatkan tugas tambahan, tidak ada salahnya meminta waktu sebentar untuk mengecek pekerjaan yang sedang berjalan.

Misalnya:

“Baik, saya cek dulu pekerjaan yang sedang saya kerjakan. 

Setelah itu saya kabari apakah bisa selesai sesuai waktu yang dibutuhkan.”

Ini jauh lebih baik daripada langsung mengatakan sanggup tetapi kemudian kewalahan.

3. Belajar Menentukan Prioritas


Tidak semua pekerjaan memiliki tingkat kepentingan yang sama.

Ada pekerjaan yang harus selesai hari ini.

Ada yang bisa besok.

Ada pula yang sebenarnya bisa menunggu.

Kalau semua pekerjaan dianggap sebagai prioritas utama, kita justru akan kesulitan menentukan mana yang harus didahulukan.

Ketika mendapatkan tugas tambahan, kita bisa bertanya:

“Dari pekerjaan yang sedang saya pegang, mana yang perlu saya prioritaskan terlebih dahulu?”

Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa kita serius bekerja sekaligus membantu atasan melihat beban pekerjaan secara nyata.

4. Sampaikan Jika Beban Kerja Sudah Terlalu Banyak


Ini bukan mengeluh.

Ini adalah komunikasi kerja.

Misalnya:

“Saat ini saya sedang menangani tiga pekerjaan yang semuanya memiliki deadline minggu ini. 

Kalau tugas baru ini harus selesai hari ini, apakah salah satu pekerjaan sebelumnya bisa digeser prioritasnya?”

Dengan cara seperti itu, kita tidak sekadar mengatakan “tidak”.

Kita memberikan gambaran mengenai kondisi yang sedang dihadapi.

5. Jangan Membandingkan Diri dengan Rekan Kerja Setiap Saat

Melihat rekan kerja yang terlihat santai ketika kita sibuk memang bisa membuat kesal.

Tetapi kita tidak selalu tahu apa yang sebenarnya mereka kerjakan.

Mungkin pekerjaan mereka berbeda.

Mungkin mereka sudah menyelesaikan tugas lebih awal.

Atau mungkin memang pembagian pekerjaan di tempat tersebut kurang merata.

Daripada terus membandingkan, lebih baik fokus pada hal yang bisa kita kendalikan.

Apakah pekerjaan kita sudah jelas?

Apakah prioritasnya sudah disepakati?

Apakah beban kerja sudah pernah dibicarakan?

Pertanyaan seperti ini lebih berguna daripada terus memikirkan mengapa orang lain terlihat lebih santai.

Jangan Sampai Kerajinan Berubah Menjadi “Hukuman”

Ada kondisi yang cukup menyedihkan di dunia kerja.

Seseorang bekerja dengan baik.

Kemudian karena dianggap mampu, dia diberi semakin banyak pekerjaan.

Lalu ketika dia mulai kelelahan, performanya menurun.

Setelah itu dia justru dianggap tidak sebaik sebelumnya.

Siklus seperti ini bisa terjadi jika tidak ada komunikasi yang sehat antara karyawan dan atasan.

Karena itu, jangan sampai muncul pemikiran:

“Kalau saya bekerja bagus, nanti pekerjaan saya malah semakin banyak.”

Kalau pemikiran ini mulai muncul di dalam tim, itu bisa menjadi tanda bahwa sistem pembagian pekerjaan perlu diperhatikan.

Kerja keras seharusnya tidak membuat seseorang takut untuk menunjukkan kemampuan.

Kapan Beban Kerja Mulai Bisa Disebut Tidak Sehat?

Tidak semua pekerjaan tambahan berarti buruk.

Terkadang pekerjaan tambahan justru bisa memberikan pengalaman baru.

Namun, ada beberapa tanda yang patut diperhatikan.

Misalnya:

  • Pekerjaan terus bertambah tanpa pengurangan tugas sebelumnya;
  • Hampir setiap hari harus lembur untuk menyelesaikan pekerjaan;
  • Waktu istirahat sering digunakan untuk bekerja;
  • Pekerjaan tambahan menjadi sesuatu yang dianggap normal;
  • Sulit mengambil cuti karena tidak ada orang yang bisa menggantikan;
  • Kualitas pekerjaan mulai menurun karena terlalu banyak tugas;
  • Kehidupan di luar pekerjaan mulai terganggu;
  • Sudah menyampaikan masalah tetapi tidak ada perubahan;
  • Tanggung jawab bertambah tetapi kejelasan peran tidak ada.

Kalau beberapa kondisi tersebut terjadi terus-menerus, mungkin persoalannya bukan lagi sekadar “terlalu rajin”.

Bisa jadi ada masalah dalam pembagian kerja atau pengelolaan tim yang perlu dibicarakan.

Apakah Harus Resign Jika Sering Mendapat Banyak Pekerjaan?

Tidak selalu.

Keputusan untuk bertahan atau mencari pekerjaan lain sebaiknya tidak dibuat hanya berdasarkan satu masalah.

Coba lihat situasinya secara keseluruhan.

Apakah lingkungan kerja masih memungkinkan untuk berdiskusi?

Apakah atasan mau mendengarkan?

Apakah beban kerja masih bisa dinegosiasikan?

Apakah ada kesempatan belajar dan berkembang?

Apakah kompensasi dan tanggung jawab masih cukup seimbang?

Apakah kondisi tersebut hanya terjadi pada periode tertentu atau sudah berlangsung lama?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa membantu kita melihat masalah dengan lebih tenang.

Terkadang masalah bisa diselesaikan hanya dengan komunikasi dan pembagian pekerjaan yang lebih jelas.

Namun, kalau berbagai cara sudah dicoba dan kondisi tetap tidak berubah, seseorang tentu perlu mempertimbangkan pilihan kariernya dengan matang.

Yang penting, jangan membuat keputusan besar hanya karena sedang lelah atau emosi.

Menjadi Karyawan yang Bisa Diandalkan Tanpa Mengorbankan Diri

Sebenarnya ada jalan tengah.

Kita tidak perlu berubah menjadi karyawan yang cuek agar tidak diberi banyak pekerjaan.

Kita juga tidak perlu selalu mengatakan “tidak”.

Yang diperlukan adalah kemampuan mengatur batas.

Misalnya:

Tetap membantu, tetapi tidak selalu mengambil alih.

Tetap bertanggung jawab, tetapi tidak menerima pekerjaan di luar kapasitas tanpa komunikasi.

Tetap profesional, tetapi berani menyampaikan kendala.

Tetap rajin, tetapi tidak merasa harus membuktikan diri setiap saat.

Inilah bentuk profesionalisme yang sering terlupakan.

Profesional bukan berarti selalu mengatakan iya.

Profesional berarti mampu memahami tanggung jawab dan mengomunikasikan kemampuan secara jujur.

Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari Karyawan Rajin

Ada beberapa kebiasaan yang tanpa sadar bisa membuat beban kerja semakin berat.

1. Selalu Ingin Menolong Semua Orang


Membantu rekan kerja memang baik.

Tetapi kalau pekerjaan orang lain terus-menerus kita ambil alih, lama-kelamaan kita sendiri yang kesulitan.

2. Takut Dianggap Tidak Mampu

Tidak mampu menyelesaikan sepuluh pekerjaan sekaligus bukan berarti tidak kompeten.

Setiap orang memiliki kapasitas.

3. Tidak Pernah Membicarakan Beban Kerja

Kalau kita tidak pernah menyampaikan bahwa pekerjaan sudah terlalu banyak, orang lain mungkin menganggap semuanya masih terkendali.

4. Mengandalkan Lembur sebagai Solusi

Lembur sesekali mungkin diperlukan.

Tetapi kalau setiap masalah selalu diselesaikan dengan menambah jam kerja, ada kemungkinan masalah sebenarnya ada pada pembagian pekerjaan atau perencanaan.

5. Menganggap Pekerjaan Lebih Penting daripada Kesehatan dan Kehidupan Pribadi

Pekerjaan memang penting.

Tetapi pekerjaan hanyalah salah satu bagian dari kehidupan.

Kita tetap membutuhkan waktu untuk keluarga, istirahat, teman, hobi, dan diri sendiri.

Ada Sisi Positif dari Menjadi Karyawan yang Sering Dipercaya

Walaupun banyak pekerjaan bisa melelahkan, kita juga perlu melihat sisi lainnya.

Ketika seseorang sering dipercaya, sebenarnya ada modal karier yang sedang terbentuk.

Misalnya:

  • Pengalaman bertambah;
  • Kemampuan menyelesaikan masalah meningkat;
  • Komunikasi dengan berbagai pihak menjadi lebih baik;
  • Kemampuan mengatur waktu berkembang;
  • Reputasi profesional mulai terbentuk;
  • Lebih banyak memahami proses kerja;
  • Mendapatkan pengalaman yang bisa menjadi bekal untuk posisi berikutnya.

Jadi, persoalannya bukan pada “diberi pekerjaan”.

Yang menjadi masalah adalah ketika pekerjaan tambahan tidak dikelola dengan baik.

Jika kita mendapatkan tanggung jawab baru, tidak ada salahnya bertanya:

“Apa yang bisa saya pelajari dari pekerjaan ini?”

dan sekaligus:

“Apakah beban ini masih masuk akal dengan tanggung jawab saya saat ini?”

Dua pertanyaan tersebut bisa berjalan bersamaan.

Jangan Sampai Menjadi Orang yang “Terlalu Bisa”

Ada istilah sederhana yang sering muncul dalam percakapan pekerja:

“Kalau kamu terlalu bisa, kamu akan semakin banyak diberi pekerjaan.”

Kalimat tersebut memang terdengar seperti candaan.

Namun, ada situasi tertentu yang membuatnya terasa nyata.

Orang yang mampu melakukan banyak hal memang lebih mudah dipercaya.

Karena itu, semakin banyak kemampuan yang kita miliki, semakin penting pula kemampuan untuk mengatur batas.

Kemampuan tanpa batas bisa membuat kita terus mengambil tanggung jawab.

Sebaliknya, kemampuan yang disertai komunikasi dan pengelolaan prioritas dapat membantu kita berkembang dengan lebih sehat.

Jadi, bukan berarti kita harus sengaja bekerja lambat agar tidak diberi tugas.

Bukan pula harus pura-pura tidak tahu.

Yang lebih sehat adalah menunjukkan kemampuan sambil tetap memahami kapasitas diri.

Kesimpulan

Menjadi karyawan rajin bukanlah sebuah kesalahan.

Masalahnya muncul ketika kerajinan tersebut membuat kita selalu dianggap tersedia untuk mengerjakan apa pun.

Karyawan yang rajin biasanya lebih mudah dipercaya karena mereka memiliki rekam pekerjaan yang baik. 

Namun, kepercayaan tersebut perlu diimbangi dengan komunikasi mengenai kapasitas dan prioritas.

Kalau pekerjaan terus bertambah, jangan hanya diam dan berharap orang lain memahami kondisi kita.

Sampaikan dengan cara yang profesional.

Tentukan prioritas.

Belajar mengatakan tidak ketika memang diperlukan.

Dan yang tidak kalah penting, jangan merasa bersalah hanya karena memiliki batas kemampuan.

Rajin bekerja bukan berarti harus selalu bekerja tanpa batas.

Kita boleh menjadi karyawan yang bertanggung jawab sekaligus tetap menjaga waktu, tenaga, dan kehidupan di luar pekerjaan.

Sebab pada akhirnya, karier bukan hanya tentang seberapa banyak pekerjaan yang berhasil kita selesaikan.

Karier juga tentang bagaimana kita bisa berkembang tanpa kehilangan diri sendiri di sepanjang perjalanan.

Poin Penting yang Bisa Diingat

  • Karyawan rajin sering mendapat lebih banyak pekerjaan karena dianggap dapat diandalkan.
  • Pekerjaan tambahan tidak selalu berarti sesuatu yang buruk.
  • Masalah muncul ketika beban kerja terus bertambah tanpa pengaturan yang jelas.
  • Jangan selalu mengatakan “iya” sebelum mengetahui kapasitas dan deadline.
  • Belajar menentukan prioritas pekerjaan.
  • Sampaikan kepada atasan jika beban kerja sudah terlalu banyak.
  • Menolak pekerjaan secara profesional berbeda dengan menjadi karyawan yang malas.
  • Jangan membandingkan beban kerja tanpa mengetahui kondisi rekan kerja.
  • Kerja keras sebaiknya tetap dibarengi dengan batas yang sehat.
  • Kepercayaan di tempat kerja bisa menjadi modal untuk perkembangan karier jika dikelola dengan baik. 

Sering Menjadi Pertanyaan Netizen 

1. Apakah karyawan rajin memang lebih sering diberi pekerjaan?

Bisa terjadi karena karyawan yang rajin biasanya dianggap mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan tepat waktu. 

Namun, banyaknya pekerjaan juga dipengaruhi oleh sistem pembagian tugas, kondisi tim, jenis pekerjaan, dan kebutuhan perusahaan.

2. Apakah boleh menolak tugas tambahan dari atasan?

Boleh menyampaikan keberatan atau meminta penyesuaian prioritas, terutama jika tugas baru berpotensi mengganggu pekerjaan yang sudah memiliki deadline. 

Sebaiknya dilakukan dengan bahasa yang profesional dan disertai alasan yang jelas.

3. Apakah menerima banyak pekerjaan berarti karier akan lebih cepat berkembang?

Belum tentu. 

Pekerjaan tambahan bisa memberikan pengalaman. 

Tetapi perkembangan karier juga dipengaruhi oleh kualitas pekerjaan, kemampuan, komunikasi, tanggung jawab, kesempatan belajar, dan bagaimana kontribusi tersebut diakui.

4. Bagaimana cara mengatakan tidak kepada atasan?

Daripada langsung mengatakan tidak, jelaskan pekerjaan yang sedang dikerjakan dan tanyakan prioritasnya. 

Contohnya, “Saya sedang menyelesaikan pekerjaan A dan B. 

Jika tugas ini harus selesai hari ini, pekerjaan mana yang sebaiknya saya prioritaskan?”

5. Apakah karyawan harus selalu membantu rekan kerja?

Membantu rekan kerja merupakan hal yang baik, tetapi tidak harus dilakukan setiap saat. 

Pastikan bantuan tersebut tidak membuat pekerjaan utama sendiri terbengkalai.

Pada akhirnya, mungkin kita tidak perlu memilih antara menjadi karyawan rajin atau karyawan yang menjaga diri sendiri.

Kita bisa menjadi keduanya.

Tetap bekerja dengan sungguh-sungguh, tetap membantu ketika memang mampu, tetapi juga belajar mengatakan bahwa kita memiliki batas.

Karena bekerja dengan baik bukan berarti harus menghabiskan seluruh tenaga yang kita punya.

Kalau kamu pernah mengalami situasi ketika semakin rajin justru semakin banyak pekerjaan yang diberikan, bagaimana kamu menghadapinya? 

Apakah kamu memilih tetap menerima, mulai membatasi diri, atau membicarakannya dengan atasan? 

Ceritakan pengalamanmu di kolom komentar. Bisa jadi pengalamanmu justru membantu pembaca lain yang sedang menghadapi hal serupa.

Posting Komentar