Cara Mengendalikan Emosi Sebelum Mengambil Keputusan agar Tidak Menyesal

Daftar Isi
Cara mengendalikan emosi sebelum mengambil keputusan agar tidak menyesal
Ilustrasi: Memberi jeda sebelum bertindak membantu kita mengambil keputusan dengan lebih tenang.

Cara Mengendalikan Emosi Agar Tidak Menyesal Setelah Mengambil Keputusan

Pernahkah kalian mengambil keputusan, setelah itu kemudian menyesal ? 

Jika iya, artinya kalian masih memiliki hati nurani dan empati.  

Ada kalanya kita mengambil keputusan bukan karena benar-benar yakin.

Tetapi karena sedang marah, kecewa, takut, atau terlalu ingin segera menyelesaikan sebuah masalah.

Sebuah pesan dikirim ketika emosi sedang tinggi. 

Hubungan diputuskan setelah pertengkaran.

Pekerjaan ditinggalkan karena merasa tidak dihargai. 

Uang dibelanjakan karena ingin melampiaskan stres. 

Atau sebuah kalimat tajam keluar begitu saja, lalu beberapa jam kemudian kita berharap bisa menariknya kembali.

Masalahnya, keputusan yang dibuat dalam keadaan emosional sering terasa benar pada saat itu.

Ketika marah, kita merasa harus membalas. 

Ketika kecewa, kita merasa harus pergi. Ketika takut, kita merasa harus menghindar. 

Ketika terlalu bahagia, kita merasa semua pilihan terlihat masuk akal.

Baru setelah emosi mereda, kita mulai melihat persoalan dengan cara berbeda.

Di situlah penyesalan biasanya muncul.

Sebenarnya, memiliki emosi bukanlah sebuah kesalahan. 

Marah, sedih, kecewa, takut, cemas, dan bahagia merupakan bagian dari pengalaman manusia. 

Yang perlu dipelajari bukan bagaimana menghilangkan emosi, melainkan bagaimana mengendalikan respons terhadap emosi tersebut.

Kita tidak selalu bisa memilih apa yang kita rasakan. Namun, kita masih memiliki kesempatan untuk menentukan apa yang akan kita lakukan setelah perasaan itu muncul.

Kemampuan tersebut sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Terutama ketika kita harus mengambil keputusan tentang pekerjaan, hubungan, keuangan, keluarga, maupun masa depan.

Artikel ini membahas cara mengendalikan emosi agar kita tidak terburu-buru mengambil keputusan yang akhirnya disesali.

Mengapa Emosi Bisa Memengaruhi Keputusan?

Emosi memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang melihat sebuah keadaan.

Ketika sedang tenang, kita mungkin bisa mempertimbangkan berbagai kemungkinan. 

Kita dapat melihat kelebihan dan kekurangan sebuah pilihan. 

Kita juga lebih mudah memahami sudut pandang orang lain.

Namun, keadaan bisa berubah ketika emosi sedang memuncak.

Orang yang sedang marah cenderung lebih fokus pada sesuatu yang dianggap menyakitkan atau tidak adil. 

Orang yang sedang takut lebih mudah membayangkan kemungkinan buruk. 

Sementara seseorang yang sedang sangat bahagia bisa saja mengabaikan risiko karena terlalu fokus pada hal yang menyenangkan.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar "jangan terbawa emosi".

Nasihat tersebut mudah diucapkan, tetapi sulit dilakukan jika kita tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam diri sendiri.

Mengendalikan emosi berarti memberikan ruang antara perasaan, pikiran, dan tindakan.

Misalnya:

"Saya sedang marah."

berbeda dengan:

"Karena saya marah, saya harus membalas sekarang."

Kalimat pertama adalah kesadaran.

Kalimat kedua adalah reaksi.

Di antara keduanya sebenarnya terdapat pilihan.

Dan kemampuan mengenali ruang kecil tersebut dapat mengubah banyak keputusan dalam hidup.

Tidak Semua Perasaan Harus Langsung Ditindaklanjuti

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap setiap perasaan harus segera diterjemahkan menjadi tindakan.

Merasa kesal lalu langsung mengirim pesan.

Merasa bosan lalu langsung ingin resign.

Merasa tidak dihargai lalu memutus hubungan.

Merasa cemas lalu membatalkan kesempatan.

Padahal, sebuah perasaan tidak selalu merupakan perintah.

Rasa marah hanya memberi tahu bahwa ada sesuatu yang tidak kita sukai, kita anggap tidak adil, atau mungkin telah melewati batas pribadi.

Rasa takut memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang dianggap mengancam.

Rasa sedih menunjukkan bahwa ada kehilangan atau sesuatu yang memiliki makna bagi kita.

Perasaan tersebut penting untuk didengarkan. Tetapi mendengarkan tidak berarti harus langsung menuruti.

Cobalah membiasakan diri mengatakan:

"Saya merasakan ini, tetapi saya tidak harus bertindak sekarang."

Kalimat sederhana tersebut dapat menjadi rem ketika emosi sedang kuat.

Kenali Tanda-Tanda Saat Emosi Mulai Mengambil Alih

Sebelum belajar mengendalikan emosi, kita perlu mengenali bagaimana emosi muncul dalam diri sendiri.

Setiap orang bisa memiliki tanda yang berbeda.

Saat marah, misalnya, seseorang mungkin berbicara lebih cepat, mengepalkan tangan, merasa panas, atau sulit mendengarkan perkataan orang lain.

Saat cemas, seseorang mungkin terus memikirkan kemungkinan buruk, sulit tidur, atau ingin segera mengambil keputusan hanya supaya ketidakpastian berakhir.

Saat kecewa, seseorang bisa kehilangan minat, menarik diri, atau berpikir bahwa semuanya sudah tidak ada gunanya.

Cobalah memperhatikan beberapa tanda berikut:

  • Jantung terasa lebih cepat;
  • Tubuh terasa tegang;
  • Suara mulai meninggi;
  • Pikiran terus mengulang kejadian yang sama;
  • Muncul dorongan untuk segera membalas;
  • Sulit menerima pendapat berbeda;
  • Ingin mengambil keputusan secepat mungkin;
  • Muncul pikiran seperti "terserah", "sudahlah", atau "biar saja";
  • Merasa harus melakukan sesuatu sekarang juga.

Jika beberapa tanda tersebut muncul bersamaan, mungkin bukan waktu terbaik untuk mengambil keputusan besar.

Bukan berarti keputusan tersebut salah.

Hanya saja, waktu pengambilannya mungkin belum tepat.

Cara Mengendalikan Emosi Sebelum Mengambil Keputusan


Mengendalikan emosi bukan berarti menjadi orang yang dingin atau tidak peduli.

Justru sebaliknya.

Orang yang mampu mengendalikan emosi biasanya tetap merasakan sesuatu dengan kuat, tetapi tidak membiarkan perasaan sesaat menentukan seluruh tindakannya.

Berikut beberapa cara yang dapat dilatih.

1. Beri Jeda Sebelum Bertindak

Jeda merupakan salah satu alat paling sederhana untuk menghadapi keputusan yang dipengaruhi emosi.

Ketika mendapatkan pesan yang membuat marah, tidak perlu langsung membalas.

Ketika menerima kritik yang membuat tersinggung, tidak perlu langsung membela diri.

Ketika sedang bertengkar, tidak harus memaksakan percakapan selesai saat itu juga.

Berikan jeda dan waktu.

Jeda tidak sama dengan menghindari masalah.

Jeda berarti memberikan kesempatan kepada tubuh dan pikiran untuk kembali lebih stabil sebelum menentukan respons.

Untuk persoalan kecil, jeda beberapa menit mungkin cukup.

Untuk persoalan yang lebih besar, Anda mungkin membutuhkan beberapa jam atau bahkan satu malam.

Semakin besar konsekuensi keputusan, semakin penting memberikan waktu untuk berpikir.

2. Jangan Membuat Keputusan Besar Saat Sedang Marah

Marah dapat membuat kita ingin segera mengakhiri sesuatu.

"Kalau begitu saya keluar."

"Saya tidak mau bicara lagi."

"Mulai sekarang kita selesai."

"Saya tidak peduli."

Kalimat-kalimat seperti itu terkadang muncul ketika emosi berada pada titik tinggi.

Masalahnya, keputusan yang dibuat saat marah sering didasarkan pada keinginan untuk menghentikan rasa tidak nyaman, bukan menyelesaikan masalah sebenarnya.

Karena itu, buat aturan pribadi:

Jangan mengambil keputusan yang sulit dibatalkan ketika sedang sangat marah.

Jika memungkinkan, tunggu sampai emosi turun.

Setelah lebih tenang, tanyakan kembali:

"Apakah saya masih menginginkan keputusan ini?"

Jika jawabannya masih sama setelah emosi mereda, keputusan tersebut mungkin memang perlu dipertimbangkan lebih serius.

3. Bedakan Fakta dan Interpretasi

Emosi sering membuat fakta dan interpretasi bercampur.

Contohnya:


Fakta:

"Atasan tidak membalas pesan saya selama dua hari."

Interpretasi:

"Atasan pasti tidak menghargai saya."

Fakta:

"Teman saya membatalkan janji."

Interpretasi:

"Dia memang tidak menganggap saya penting."

Fakta:

"Pasangan saya tidak menjawab telepon."

Interpretasi:

"Dia pasti sedang menyembunyikan sesuatu."

Perhatikan perbedaannya.

Fakta adalah sesuatu yang dapat kita amati atau verifikasi.

Interpretasi adalah makna yang kita berikan terhadap fakta tersebut.

Interpretasi tidak selalu salah. Namun, interpretasi juga belum tentu benar.

Sebelum mengambil keputusan, tanyakan:

"Apa yang benar-benar saya ketahui, dan apa yang hanya saya simpulkan?"

Pertanyaan ini dapat membantu mengurangi keputusan berdasarkan asumsi.

4. Beri Nama pada Emosi yang Sedang Dirasakan

Terkadang kita mengatakan "saya sedang tidak baik-baik saja", padahal perasaan yang sebenarnya cukup spesifik.

Mungkin kita marah.

Mungkin kecewa.

Mungkin malu.

Mungkin takut ditolak.

Mungkin merasa tidak dihargai.

Mungkin sebenarnya lelah.

Memberikan nama pada emosi dapat membantu kita memahami masalah dengan lebih jelas.

Daripada berkata:

"Saya ingin berhenti dari pekerjaan ini."

Cobalah bertanya:

"Apakah saya benar-benar ingin berhenti, atau saya sedang sangat kecewa karena perlakuan seseorang hari ini?"

Jawabannya bisa berbeda.

Keputusan untuk meninggalkan pekerjaan merupakan keputusan besar.

Sementara kebutuhan untuk beristirahat atau menyelesaikan konflik dengan seseorang mungkin merupakan persoalan yang jauh lebih spesifik.

5. Jangan Mengambil Keputusan Ketika Tubuh Sedang Sangat Lelah

Kondisi fisik juga dapat memengaruhi kemampuan kita merespons masalah.

Kurang tidur, lapar, kelelahan setelah bekerja, atau tekanan yang menumpuk dapat membuat seseorang lebih mudah tersulut.

Kadang masalah yang terlihat sangat besar pada malam hari terasa lebih mudah dipikirkan setelah tidur cukup.

Bukan berarti semua masalah akan hilang hanya dengan tidur.

Namun, kondisi tubuh yang lebih baik dapat membantu kita menghadapi masalah dengan pikiran yang lebih tertata.

Karena itu, sebelum mengambil keputusan penting, tanyakan:

"Apakah saya sedang marah, lapar, sangat lelah, atau kurang tidur?"


Jika iya, selesaikan kebutuhan dasar tersebut terlebih dahulu jika memungkinkan.

Setelah itu, kembali kepada persoalannya.

Gunakan Teknik 3 T ("Tunda, Tenangkan, Tinjau")


Jika Anda sulit mengingat banyak teknik, gunakan tiga langkah sederhana:

Tunda

Jangan langsung melakukan tindakan yang memiliki konsekuensi besar.

Tenangkan

Ambil napas perlahan, menjauh sebentar dari situasi, berjalan, minum air, beristirahat, atau melakukan aktivitas yang membantu menurunkan ketegangan.

Tinjau

Setelah lebih stabil, lihat kembali masalahnya.

Apa faktanya?

Apa yang saya rasakan?

Apa yang saya inginkan?

Apa risikonya?

Apa dampaknya jika keputusan ini dilakukan?

Tiga langkah ini tidak menjamin kita selalu mengambil keputusan sempurna.

Namun, setidaknya keputusan tidak lagi dibuat hanya karena emosi sesaat.

Belajar Menggunakan Napas untuk Mengurangi Reaksi Spontan

Ketika emosi meningkat, tubuh ikut bereaksi.

Salah satu cara sederhana untuk menciptakan jeda adalah memperhatikan pernapasan.

Tarik napas perlahan.

Kemudian keluarkan secara perlahan.

Tidak perlu menjadikannya ritual yang rumit.

Tujuannya bukan menghilangkan masalah, melainkan memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi.

Anda juga dapat mencoba pola sederhana:

Tarik napas perlahan → Tahan sebentar → Keluarkan perlahan → Ulangi beberapa kali.

Sambil melakukannya, jangan memaksa diri untuk langsung menemukan solusi.

Cukup katakan:

"Saya tidak harus menyelesaikan semuanya dalam menit ini."


Kalimat tersebut penting, terutama ketika pikiran terasa mendesak.

Hindari Mengirim Pesan Saat Emosi Memuncak

Banyak penyesalan dalam hubungan maupun pekerjaan bermula dari sebuah pesan yang dikirim terlalu cepat.

Saat emosi tinggi, kita cenderung menulis lebih tajam daripada yang sebenarnya kita maksud.

Kemudian pesan tersebut terkirim.

Tidak bisa ditarik kembali.

Orang lain membacanya.

Masalah berkembang.

Jika sedang sangat marah, tuliskan pesan di catatan pribadi terlebih dahulu.

Jangan langsung kirim.

Setelah beberapa waktu, baca ulang.

Tanyakan:

"Apakah pesan ini menyelesaikan masalah atau hanya melampiaskan emosi?"

Jika tujuan Anda adalah menyelesaikan masalah, mungkin beberapa kalimat perlu diubah.

Fokuskan pembicaraan pada kejadian dan kebutuhan, bukan serangan terhadap karakter seseorang.

Jangan Membuat Keputusan untuk Membuktikan Sesuatu kepada Orang Lain

Ada keputusan yang sebenarnya tidak kita inginkan, tetapi kita ambil karena ingin menunjukkan sesuatu.

Ingin menunjukkan bahwa kita kuat.

Ingin membuat seseorang menyesal.

Ingin membuktikan bahwa kita tidak membutuhkan mereka.

Ingin membuat orang lain merasa kehilangan.

Masalahnya, keputusan yang dibuat untuk membalas atau membuktikan sesuatu sering membuat kita bergantung pada reaksi orang lain.

Jika mereka tidak bereaksi seperti yang kita harapkan, kita justru semakin kecewa.

Lebih baik tanyakan:

"Kalau tidak ada seorang pun yang mengetahui keputusan saya, apakah saya tetap akan memilih ini?"

Jika jawabannya tidak, mungkin keputusan tersebut lebih banyak didorong oleh kebutuhan mendapatkan pengakuan daripada kebutuhan diri sendiri.

Belajar Menerima Bahwa Tidak Semua Masalah Harus Diselesaikan Hari Ini

Budaya serba cepat membuat kita terbiasa ingin mendapatkan jawaban segera.

Padahal, beberapa keputusan memang membutuhkan waktu.

Karier tidak selalu dapat ditentukan dalam satu malam.

Hubungan tidak selalu harus diberi keputusan setelah satu pertengkaran.

Persoalan keluarga tidak selalu selesai dalam satu percakapan.

Begitu pula dengan keputusan keuangan.

Memberi waktu bukan berarti lemah.

Terkadang, waktu justru memberikan informasi yang sebelumnya tidak terlihat.

Orang yang sedang marah mungkin menunjukkan sesuatu yang sebenarnya penting.

Situasi yang awalnya terlihat membingungkan bisa menjadi lebih jelas setelah beberapa hari.

Karena itu, tidak apa-apa mengatakan:

"Saya perlu waktu untuk memikirkannya."

Kalimat tersebut menunjukkan kedewasaan, bukan keraguan.

Gunakan Pertanyaan Sebelum Mengambil Keputusan

Ketika emosi sedang kuat, jangan hanya bertanya:

"Apakah saya mau melakukan ini?"

Gunakan beberapa pertanyaan tambahan.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Pisahkan fakta dari asumsi.

Apa yang sedang saya rasakan?

Sebutkan emosinya secara spesifik.

Mengapa hal ini begitu memengaruhi saya?

Mungkin ada pengalaman lama, rasa takut, kebutuhan akan penghargaan, atau harapan tertentu yang ikut bermain.

Apa yang ingin saya capai?

Apakah ingin menyelesaikan masalah, menjaga hubungan, mendapatkan ketenangan, atau sekadar melampiaskan kemarahan?

Apa konsekuensinya?

Pikirkan dampak jangka pendek dan jangka panjang.

Apakah keputusan ini masih masuk akal jika saya sudah tenang?

Pertanyaan terakhir sangat penting.

Jika keputusan berubah total setelah emosi mereda, mungkin Anda perlu lebih berhati-hati.

Jangan Selalu Menganggap Emosi sebagai Musuh


Ada kecenderungan menganggap orang yang emosional sebagai orang yang lemah.

Pandangan tersebut terlalu sederhana.

Emosi dapat memberikan informasi yang penting.

Rasa tidak nyaman mungkin menunjukkan adanya batas yang dilanggar.

Rasa kecewa dapat menunjukkan bahwa harapan kita terlalu tinggi atau komunikasi belum jelas.

Rasa takut bisa memberi sinyal bahwa sebuah keputusan memang memiliki risiko.

Rasa marah terkadang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang menurut kita tidak adil.

Jadi, jangan memusuhi emosi.

Dengarkan.

Pahami.

Kemudian putuskan.

Emosi boleh ikut berbicara, tetapi jangan biarkan ia menjadi satu-satunya pihak yang menentukan keputusan.

Bagaimana Jika Sudah Terlanjur Mengambil Keputusan?

Tidak semua penyesalan dapat dicegah.

Manusia tetap bisa salah meskipun sudah berusaha berpikir tenang.

Jika Anda sudah terlanjur mengambil keputusan saat emosi, jangan langsung menghukum diri sendiri.

Pertama, berani mengakui.

"Saya mengambil keputusan ketika sedang sangat marah."

Kedua, lihat apakah keputusan tersebut masih bisa diperbaiki.

Jika sebuah pesan terlalu keras, mungkin Anda dapat meminta maaf.

Jika terjadi konflik, mungkin masih ada kesempatan untuk berbicara dengan lebih tenang.

Jika keputusan keuangan sudah dilakukan, mungkin langkah berikutnya adalah memperbaiki pengelolaan uang.

Jika keputusan pekerjaan ternyata terburu-buru, fokuslah pada langkah berikutnya daripada terus menyalahkan diri.

Kesalahan tidak selalu dapat dihapus.

Tetapi respons setelah kesalahan masih bisa dipilih.

Jangan Menjadikan Penyesalan sebagai Identitas

Ada orang yang melakukan satu kesalahan lalu terus berkata:

"Saya memang selalu salah mengambil keputusan."

Kalimat seperti itu dapat berubah menjadi identitas.

Padahal, membuat keputusan buruk tidak berarti seseorang adalah orang yang buruk.

Anda mungkin pernah bereaksi berlebihan.

Pernah mempercayai orang yang salah.

Pernah mengeluarkan uang secara impulsif.

Pernah meninggalkan sesuatu karena emosi.

Itu adalah pengalaman.

Bukan keseluruhan diri Anda.

Lebih sehat jika mengatakan:

"Saya pernah membuat keputusan yang saya sesali, dan saya sedang belajar membuat keputusan dengan lebih baik."

Ada perbedaan besar antara kedua cara berpikir tersebut.

Yang pertama mengunci diri pada masa lalu.

Yang kedua membuka ruang untuk berkembang. 

Melatih Pengendalian Emosi dalam Situasi Kecil

Jangan menunggu konflik besar untuk belajar mengendalikan emosi.

Latihan justru bisa dimulai dari hal sederhana.

Ketika antrean panjang, perhatikan reaksi diri.

Ketika seseorang memotong pembicaraan, jangan langsung membalas.

Ketika mendapat komentar yang tidak disukai, beri waktu sebelum menjawab.

Ketika pekerjaan tertunda, tarik napas sebelum menyalahkan orang lain.

Ketika menerima kabar yang mengecewakan, jangan langsung membuat kesimpulan.

Situasi kecil tersebut merupakan tempat latihan.

Semakin sering kita membiasakan diri memberikan jeda, semakin mudah menggunakan kemampuan tersebut ketika menghadapi persoalan yang lebih berat.

Bangun Kebiasaan Jurnal Emosi

Jika ingin lebih memahami diri sendiri, cobalah menulis jurnal sederhana.

Tidak perlu panjang.

Cukup tuliskan:

Kejadian: Apa yang terjadi?

Emosi:
Apa yang saya rasakan?

Pikiran: Apa yang langsung muncul di kepala?

Dorongan: Apa yang ingin saya lakukan?

Tindakan: Apa yang akhirnya saya lakukan?

Hasil: Apa yang terjadi setelahnya?

Setelah beberapa minggu, Anda mungkin menemukan pola.

Misalnya, Anda selalu mudah marah ketika merasa dikritik.

Atau selalu ingin berbelanja ketika sedang stres.

Atau cenderung ingin mengakhiri hubungan ketika merasa tidak diperhatikan.

Pola tersebut penting.

Karena kita tidak dapat mengubah sesuatu yang tidak kita sadari.

Belajar Mengatakan "Saya Sedang Emosional"

Ada kekuatan tertentu dalam mengakui keadaan diri sendiri.

Anda tidak perlu selalu terlihat kuat.

Jika sedang marah, Anda bisa mengatakan:

"Saya sedang cukup emosi. Saya ingin membicarakannya nanti setelah lebih tenang."

Jika sedang kecewa:

"Saya butuh waktu untuk memproses ini sebelum memberikan jawaban."

Jika sedang bingung:

"Saya belum yakin. Saya perlu mempertimbangkannya dulu."

Kemampuan mengakui kondisi emosional dapat mencegah banyak konflik yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Pilih Lingkungan yang Membantu Anda Tetap Tenang

Cara seseorang mengendalikan emosi juga dipengaruhi lingkungan.

Jika setiap masalah selalu dibicarakan dengan orang yang suka memperkeruh keadaan, emosi bisa semakin tinggi.

Sebaliknya, berbicara dengan orang yang mampu mendengarkan dan membantu melihat persoalan secara lebih objektif dapat memberikan perspektif baru.

Bukan berarti kita harus mencari orang yang selalu setuju.

Justru terkadang kita membutuhkan seseorang yang berani berkata:

"Mungkin kamu sedang terlalu marah."

atau:

"Coba pikirkan lagi sebelum mengambil keputusan."

Orang yang membantu kita berpikir lebih jernih jauh lebih berharga daripada orang yang hanya memperkuat kemarahan kita.

Terapkan Aturan 24 Jam untuk Keputusan yang Bisa Ditunda

Tidak semua keputusan membutuhkan waktu 24 jam.

Tetapi untuk keputusan yang tidak mendesak dan berpotensi memiliki dampak besar, aturan sederhana ini bisa membantu.

Jika sedang marah dan ingin:

  • Mengundurkan diri;
  • Memutus hubungan;
  • Mengirim pesan panjang;
  • Membeli barang mahal;
  • Membalas seseorang;
  • Membuat unggahan di media sosial;
  • Mengambil keputusan finansial besar;

dan keputusan tersebut masih bisa ditunda, berikan waktu.

Tidur terlebih dahulu.

Bangun keesokan harinya.

Kemudian tanyakan kembali.

Mungkin jawabannya masih sama.

Tidak masalah.

Yang penting, keputusan tersebut sekarang telah melewati satu lapisan pertimbangan tambahan.

Cara Membangun Kebiasaan Berpikir Sebelum Bertindak

Mengendalikan emosi bukan kemampuan yang muncul hanya karena membaca satu artikel.

Ia membutuhkan latihan.

Mulailah dengan satu kebiasaan.

Jangan langsung merespons ketika emosi tinggi.

Setelah terbiasa, tambahkan kebiasaan kedua yaitu:

Pisahkan fakta dari asumsi.

Kemudian:

Tanyakan konsekuensi sebelum mengambil keputusan.

Lalu:

Berikan waktu untuk keputusan yang tidak mendesak.

Perubahan kecil yang dilakukan berulang lebih realistis daripada mencoba menjadi seseorang yang selalu tenang dalam segala situasi.

Anda tetap akan marah.

Tetap kecewa.

Tetap takut.

Tetap sedih.

Namun, perlahan Anda belajar tidak selalu bereaksi seperti sebelumnya.

Itulah perkembangan yang sebenarnya.

Berikut ini Solusi Praktis Saat Emosi Sedang Memuncak

Jika Anda membutuhkan langkah yang bisa langsung digunakan, cobalah pola berikut.

Langkah 1: Berhenti

Jangan langsung membalas pesan atau membuat keputusan.

Langkah 2:
Tarik diri sebentar

Jika memungkinkan, tinggalkan situasi selama beberapa menit.

Langkah 3: Atur napas

Berikan kesempatan tubuh untuk lebih rileks.

Langkah 4: Sebutkan emosi

"Saya sedang marah."

"Saya sedang takut."

"Saya sedang kecewa.
"

Langkah 5: Cari fakta

Apa yang benar-benar terjadi?

Langkah 6: Tunda keputusan besar

Jika tidak mendesak, jangan putuskan sekarang.

Langkah 7: Tinjau kembali

Setelah lebih tenang, pertimbangkan pilihan yang tersedia.

Langkah 8: Pilih tindakan yang sesuai dengan nilai hidup

Tanyakan:

"Orang seperti apa yang ingin saya menjadi setelah menghadapi masalah ini?"

Pertanyaan terakhir dapat membantu kita melihat persoalan lebih jauh daripada sekadar keinginan untuk menang dalam sebuah konflik.

Mengendalikan Emosi Bukan Berarti Selalu Mengalah

Ada kesalahpahaman bahwa orang yang mampu mengendalikan emosi harus selalu diam, memaafkan, atau menerima perlakuan buruk.

Tidak demikian.

Mengendalikan emosi bukan berarti membiarkan orang lain melewati batas.

Anda tetap boleh mengatakan tidak.

Tetap boleh meninggalkan lingkungan yang tidak sehat.

Tetap boleh menyampaikan keberatan.

Tetap boleh mengakhiri hubungan yang memang tidak baik.

Tetap boleh mengambil keputusan tegas.

Perbedaannya adalah cara dan alasan di balik keputusan tersebut.

Anda tidak mengambil keputusan karena ingin menghukum seseorang.

Anda mengambil keputusan karena memahami apa yang diperlukan untuk diri sendiri.

Ketegasan yang lahir dari pikiran jernih biasanya berbeda dengan tindakan impulsif yang lahir dari kemarahan.

Pada Akhirnya, Kita Tidak Membutuhkan Keputusan yang Sempurna

Hidup tidak menyediakan informasi lengkap untuk setiap keputusan.

Kadang kita sudah berpikir matang tetapi hasilnya tetap tidak sesuai harapan.

Karena itu, tujuan mengendalikan emosi bukan supaya setiap keputusan selalu benar.

Tujuannya adalah mengurangi keputusan yang dibuat hanya karena dorongan sesaat.

Kita ingin belajar memberikan kesempatan kepada pikiran untuk ikut berbicara.

Kita ingin bisa mengatakan:

"Saya marah, tetapi saya tidak harus membalas sekarang."

"Saya kecewa, tetapi saya tidak harus menghancurkan semuanya."

"Saya takut, tetapi saya perlu memahami ketakutan ini terlebih dahulu."

"Saya ingin pergi, tetapi saya akan memastikan bahwa keputusan ini bukan sekadar pelarian."


Di situlah kedewasaan emosional mulai terbentuk.

Bukan ketika kita tidak pernah marah.

Bukan ketika kita selalu tenang.

Melainkan ketika kita mulai mampu memilih respons meskipun perasaan sedang kuat.

FAQ: Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Mengendalikan Emosi 

1. Apakah emosi harus dikendalikan atau justru diluapkan?

Emosi sebaiknya dikenali dan dikelola. 

Bukan ditekan atau dilampiaskan secara sembarangan. 

Anda boleh merasakan marah, tetapi tidak berarti harus menyakiti orang lain. 

Tujuannya adalah memahami emosi kemudian memilih respons yang lebih sehat.

2. Mengapa saya sering menyesal setelah marah?

Kemungkinan karena keputusan atau perkataan muncul ketika emosi sedang tinggi. 

Saat emosi mulai turun, kemampuan melihat situasi dari berbagai sudut biasanya menjadi lebih baik. 

Sehingga tindakan sebelumnya dapat terlihat terlalu berlebihan.

3. Bagaimana cara berhenti mengambil keputusan saat sedang emosi?


Buat aturan pribadi untuk menunda keputusan besar ketika emosi sedang memuncak. 

Ambil jeda, tenangkan diri, tuliskan masalah, pisahkan fakta dari asumsi.

Kemudian tinjau kembali ketika kondisi lebih stabil.

4. Apakah menarik diri sementara ketika marah merupakan hal yang buruk?


Tidak selalu. 

Jika dilakukan untuk menenangkan diri dan kemudian kembali membicarakan masalah. 

Mengambil jarak sementara dapat membantu. 

Yang perlu dihindari adalah menggunakan diam sebagai cara menghukum atau memanipulasi orang lain.

5. Berapa lama harus menunggu sebelum mengambil keputusan?

Tidak ada waktu yang berlaku untuk semua situasi. 

Keputusan kecil mungkin hanya membutuhkan beberapa menit. 

Keputusan besar seperti pekerjaan, hubungan, atau keuangan bisa membutuhkan waktu lebih lama. 

Semakin besar konsekuensinya, semakin penting memastikan emosi sudah cukup stabil.

6. Bagaimana jika saya memang benar-benar marah karena diperlakukan tidak adil?

Rasa marah tetap valid dan masuk akal. 

Namun, benar tentang sebuah persoalan tidak otomatis berarti setiap tindakan yang dilakukan ketika marah akan menjadi tindakan yang tepat. 

Anda tetap dapat bersikap tegas setelah emosi lebih terkendali.

7. Apakah orang yang mudah emosi berarti memiliki mental yang lemah?


Tidak. Intensitas emosi dan kemampuan mengelola respons adalah dua hal yang berbeda. 

Seseorang bisa memiliki emosi yang kuat sekaligus belajar mengelolanya dengan baik.

8. Bagaimana jika keputusan yang saya ambil ternyata benar meskipun dibuat saat marah?


Keputusan tersebut bisa saja memang benar. 

Namun, hasil yang benar tidak selalu berarti proses pengambilan keputusannya sudah ideal. 

Tetap penting belajar memeriksa fakta dan konsekuensi agar keputusan berikutnya tidak hanya bergantung pada emosi.

9. Apakah menulis jurnal dapat membantu mengendalikan emosi?


Menulis dapat membantu sebagian orang mengenali pola pikiran, pemicu emosi, dan kebiasaan respons. 

Jurnal sederhana juga dapat membantu seseorang melihat masalah dari jarak yang lebih objektif.

10. Kapan seseorang perlu mencari bantuan profesional?


Jika emosi terasa sangat sulit dikendalikan, sering menyebabkan masalah serius dalam hubungan atau pekerjaan.

Atau membuat seseorang merasa tidak mampu menjalani aktivitas sehari-hari.

Berbicara dengan tenaga profesional dapat menjadi langkah yang bijaksana.

Kesimpulan


Mengendalikan emosi bukan tentang menjadi manusia yang tidak pernah marah.

Tidak pernah kecewa, atau selalu terlihat tenang.

Kita tetap manusia.

Ada hari ketika kesabaran menipis. 

Ada perkataan orang lain yang menyakitkan. 

Ada kegagalan yang membuat kecewa. 

Ada keputusan yang terasa begitu mendesak sampai kita ingin segera mengakhirinya.

Namun, di tengah semua itu, selalu ada satu ruang kecil antara apa yang kita rasakan dan apa yang kita lakukan.

Ruang itulah yang perlu dilatih.

Berikan jeda sebelum merespons. 

Kenali emosi yang muncul. Pisahkan fakta dari asumsi. 

Jangan mengambil keputusan besar ketika sedang sangat marah. 

Pertimbangkan konsekuensi. Dan jika memungkinkan, tidur terlebih dahulu sebelum menentukan sesuatu yang dapat mengubah hidup.

Kita mungkin tetap pernah salah.

Tetapi semakin kita memahami emosi sendiri, semakin kecil kemungkinan kita menyerahkan keputusan penting kepada perasaan sesaat.

Pada akhirnya, kemampuan mengendalikan emosi bukan hanya membuat kita terhindar dari penyesalan.

Kemampuan ini juga membantu kita menjadi pribadi yang lebih matang dalam menghadapi pekerjaan, hubungan, uang, kegagalan, konflik, dan berbagai ketidakpastian dalam hidup.

Bukan karena kita selalu tahu keputusan yang paling benar.

Melainkan karena kita belajar tidak terburu-buru ketika hidup sedang terasa terlalu berat untuk dipikirkan dengan jernih.

Pernahkah Anda mengambil keputusan ketika sedang marah, kecewa, atau terlalu terbawa perasaan, lalu menyesal setelah emosi mereda?

Ceritakan pengalaman Anda di kolom komentar. Bisa jadi pengalaman yang menurut Anda sederhana justru menjadi pelajaran berharga bagi pembaca lainnya. 

Posting Komentar