5 Trik “Nakal” tapi Berguna dalam Kehidupan Sehari-hari
5 Trik “Nakal” yang Ternyata Bisa Membuat Hidup Lebih Mudah
Ilustrasi: 5 trik nakal tapi berguna dalam kehidupan sehari-hari
Pernah nggak kamu melihat orang yang kelihatannya biasa saja, tetapi ternyata punya banyak cara sederhana untuk membuat hidupnya lebih mudah?
Bukan karena dia lebih pintar dari semua orang.
Bukan juga karena hidupnya selalu berjalan mulus.
Kadang, dia hanya tahu beberapa trik kecil yang tidak terpikirkan oleh orang lain.
Nah, trik seperti ini sering dianggap sedikit “nakal”.
Bukan nakal dalam arti menipu, merugikan orang, atau melakukan sesuatu yang melanggar aturan.
Lebih tepatnya, nakal berarti cerdik, sedikit berani, dan tidak selalu mengikuti kebiasaan umum selama tetap berada di jalur yang wajar.
Dalam kehidupan sehari-hari, terlalu lurus mengikuti kebiasaan kadang justru membuat kita repot sendiri.
Kita bisa menghabiskan waktu, tenaga, bahkan uang hanya karena tidak tahu cara mencari jalan yang lebih praktis.
Berikut lima trik “nakal” yang bisa kamu gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sederhana, tetapi kalau digunakan pada waktu yang tepat, lumayan membantu.
1. Jangan Selalu Langsung Bilang “Iya”
Salah satu kebiasaan yang sering membuat hidup terasa berat adalah terlalu cepat mengatakan “iya”.
Teman meminta bantuan, iya.
Rekan kerja meminta tolong, iya.
Ada pekerjaan tambahan, iya.
Diajak pergi padahal sedang ingin istirahat, iya.
Ada permintaan yang sebenarnya tidak ingin dilakukan, tetapi tetap iya karena tidak enak hati.
Akhirnya, kita sendiri yang kewalahan.
Di sinilah trik “nakal” pertama bisa digunakan: jangan langsung menjawab.
Kalau seseorang meminta sesuatu kepada kita, biasakan memberikan jeda.
Misalnya:
“Boleh saya pikirkan dulu?”
“Aturannya bagaimana?”
“Kapan harus selesai?”
“Kalau saya kerjakan, bagian saya yang mana?”
Pertanyaan sederhana seperti itu bisa mengubah banyak hal.
Mengapa?
Orang lain sering menganggap kita bersedia membantu hanya karena kita terlalu cepat menjawab.
Padahal belum tentu kita benar-benar punya waktu atau kemampuan untuk mengerjakannya.
Jeda beberapa detik atau beberapa menit juga memberi kesempatan kepada kita untuk berpikir secara lebih rasional.
Misalnya, seorang teman meminta bantuan pindahan rumah pada hari Minggu.
Kalau langsung menjawab, “Iya, saya bantu,” kamu baru sadar bahwa hari Minggu sebenarnya sudah punya acara.
Berbeda kalau kamu mengatakan, “Saya cek jadwal dulu, ya.”
Setelah melihat jadwal, ternyata memang tidak memungkinkan.
Menolak bukan berarti jahat.
Kamu bisa mengatakan:
“Maaf, Minggu saya ada urusan yang sudah dijadwalkan. Kalau Sabtu sore mungkin saya bisa membantu.”
Lebih baik memberikan jawaban yang jujur daripada mengatakan iya tetapi akhirnya tidak datang.
Kenapa trik ini berguna?
Karena tidak semua permintaan harus kita penuhi.
Waktu kita terbatas. Tenaga juga terbatas. Bahkan orang yang paling baik sekalipun tidak mungkin membantu semua orang setiap saat.
Jadi, sedikit “nakal” dalam menjaga waktu sendiri sebenarnya bukan sesuatu yang buruk.
Kadang kita perlu belajar bahwa mengatakan tidak pada satu hal berarti memberikan ruang untuk mengatakan iya pada sesuatu yang lebih penting.
2. Jangan Malu Bertanya Harga dan Minta Pilihan
Ada orang yang kalau membeli sesuatu hanya menerima harga yang diberikan.
“Berapa harganya?”
“Seratus ribu.”
“Oke.”
Selesai.
Padahal sebenarnya masih ada ruang untuk bertanya.
“Kalau ambil dua, ada harga khusus?”
“Yang lebih murah ada?”
“Kalau yang kualitasnya sedikit di bawah ini berapa?”
“Kalau bayar tunai, apakah ada harga berbeda?”
Bertanya seperti itu bukan berarti pelit.
Justru, ini salah satu cara sederhana untuk mengelola pengeluaran.
Tentu saja jangan memaksa penjual.
Jangan merendahkan harga barang.
Jangan membuat penjual merasa harus memberikan harga yang tidak masuk akal.
Cukup bertanya dengan sopan.
Kadang hasilnya mengejutkan.
Misalnya kamu ingin membeli sebuah barang seharga Rp150.000.
Kamu bertanya apakah ada pilihan lain dengan fungsi yang sama tetapi lebih murah.
Ternyata ada produk seharga Rp110.000.
Kamu baru saja menghemat Rp40.000 hanya karena bertanya.
Kalau dilakukan berkali-kali, penghematan kecil bisa menjadi lumayan besar.
Hal yang sama juga berlaku ketika menggunakan jasa.
Misalnya, ingin memperbaiki kendaraan.
Jangan hanya bertanya:
“Berapa biayanya?”
Coba tanyakan:
“Kalau hanya bagian ini yang diperbaiki, apakah bisa?”
“Kalau menggunakan pilihan yang lebih ekonomis, bagaimana?”
“Bagian mana yang memang harus diganti dan mana yang masih bisa digunakan?”
Pertanyaan tersebut membantu kita memahami kebutuhan sebenarnya.
Jangan takut terlihat cerewet
Ada perbedaan antara cerewet dan teliti.
Cerewet berarti banyak bicara tanpa tujuan.
Teliti berarti memastikan sesuatu sebelum mengeluarkan uang atau mengambil keputusan.
Dalam urusan keuangan, lebih baik dianggap sedikit cerewet daripada menyesal setelah uang keluar.
Triknya sederhana: jangan malu bertanya sebelum membayar.
Setelah transaksi selesai, biasanya ruang untuk bertanya menjadi jauh lebih kecil.
3. Kalau Pekerjaan Terasa Berat, Pecah Menjadi Bagian Kecil
Ini mungkin terlihat seperti trik biasa, tetapi sebenarnya cukup “nakal” terhadap rasa malas.
Ketika melihat pekerjaan besar, otak kita sering langsung membayangkan betapa melelahkannya pekerjaan tersebut.
Membersihkan rumah.
Menyelesaikan laporan.
Belajar untuk ujian.
Menulis artikel.
Merapikan file komputer.
Bahkan mencuci kendaraan pun kadang terasa berat kalau kita membayangkan semuanya sekaligus.
Triknya adalah jangan menganggapnya sebagai satu pekerjaan besar.
Ubah menjadi beberapa pekerjaan kecil.
Misalnya, kamar berantakan.
Jangan berkata:
“Saya harus membereskan kamar.”
Kalimat itu terdengar seperti tugas besar.
Ganti menjadi:
“Saya rapikan meja dulu.”
Setelah selesai:
“Sekarang kumpulkan pakaian.”
Kemudian:
“Buang sampah.”
Lalu:
“Sapu lantai.”
Ternyata pekerjaan yang awalnya terasa berat bisa selesai sedikit demi sedikit.
Cara ini juga bisa diterapkan pada pekerjaan kantor.
Misalnya, kamu harus membuat laporan.
Daripada berpikir:
“Saya harus menyelesaikan laporan ini.”
Coba ubah menjadi:
Kumpulkan data.
Periksa data.
Buat kerangka.
Tulis bagian pertama.
Periksa kembali.
Rapikan format.
Kirim.
Jauh lebih ringan, bukan?
Trik tambahan: mulai hanya lima menit
Kalau benar-benar malas, katakan kepada diri sendiri:
“Saya kerjakan lima menit saja.”
Tidak perlu berjanji akan menyelesaikan semuanya.
Cukup lima menit.
Lucunya, setelah lima menit berjalan, sering kali kita sudah terlanjur masuk ke pekerjaan tersebut dan akhirnya melanjutkannya.
Ini bukan berarti semua masalah bisa diselesaikan dalam lima menit.
Tetapi memulai sering kali menjadi bagian tersulit.
Kadang kita tidak mampu mengerjakan sesuatu. Kita hanya terlalu lama menunggu sampai merasa siap.
Padahal rasa siap itu belum tentu datang.
Jadi, sedikit “nakal” terhadap rasa malas bisa menjadi cara yang cukup efektif.
4. Kalau Tidak Tahu, Jangan Pura-Pura Tahu
Ini mungkin trik yang terdengar aneh.
Bukankah orang yang terlihat pintar adalah orang yang selalu tahu?
Tidak juga.
Justru, salah satu kebiasaan yang bisa menyelamatkan kita dari banyak masalah adalah berani mengatakan:
“Saya belum tahu.”
Kalimat tersebut memang sederhana, tetapi tidak semua orang berani mengucapkannya.
Ada orang yang ketika ditanya sesuatu langsung memberikan jawaban meskipun sebenarnya tidak yakin.
Masalahnya, kalau jawaban tersebut salah, akibatnya bisa panjang.
Misalnya, di tempat kerja kamu diberikan tugas menggunakan sebuah aplikasi yang belum pernah kamu gunakan.
Daripada pura-pura mengerti, lebih baik bertanya:
“Bagian ini saya belum pernah gunakan.
Bisa dijelaskan cara mengerjakannya?”
Pertanyaan tersebut justru bisa menghemat waktu.
Bayangkan kalau kamu pura-pura paham, kemudian mengerjakan selama dua jam dan ternyata semuanya salah.
Akhirnya kamu harus mengulang dari awal.
Mengakui tidak tahu bukan berarti bodoh.
Tidak tahu adalah kondisi sementara. Tidak mau belajar adalah pilihan.
Orang yang berani bertanya justru memiliki kesempatan untuk mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak dia pahami.
Tetapi ada batasnya
Jangan menjadikan “saya tidak tahu” sebagai alasan untuk malas belajar.
Kalau sesuatu sudah dijelaskan berkali-kali, kita juga perlu berusaha mengingat dan mempelajarinya.
Trik ini bukan tentang menghindari tanggung jawab.
Ini tentang menghindari kesalahan yang sebenarnya bisa dicegah hanya dengan bertanya.
Kadang, satu pertanyaan sederhana bisa menyelamatkan kita dari berjam-jam pekerjaan yang sia-sia.
5. Jangan Selalu Menunggu Mood Bagus untuk Melakukan Sesuatu
Ini mungkin trik yang paling “nakal”.
Banyak orang menunggu mood untuk bekerja.
Menunggu mood untuk olahraga.
Menunggu mood untuk belajar.
Menunggu mood untuk menulis.
Menunggu mood untuk membersihkan rumah.
Masalahnya, mood tidak selalu bisa diajak bekerja sama.
Hari ini semangat.
Besok malas.
Lusa semangat lagi.
Akhirnya, pekerjaan yang seharusnya selesai dalam seminggu justru tertunda selama sebulan.
Karena itu, sesekali kita perlu sedikit “menipu” diri sendiri.
Bukan dengan cara negatif, tetapi dengan membuat target yang sangat kecil.
Misalnya, ingin olahraga.
Jangan berkata:
“Mulai besok saya olahraga satu jam setiap hari.”
Target tersebut terdengar bagus, tetapi cukup berat untuk dipertahankan.
Coba:
“Besok saya jalan kaki selama sepuluh menit.”
Jika sudah terbiasa, naik menjadi lima belas menit.
Kemudian dua puluh menit.
Begitu juga dengan membaca.
Daripada menargetkan lima puluh halaman setiap malam, mulailah dengan lima halaman.
Untuk menulis, jangan langsung menargetkan seribu kata.
Mulai dari satu paragraf.
Untuk belajar, jangan langsung tiga jam.
Mulai dari dua puluh menit.
Mengapa cara kecil sering lebih mudah?
Karena otak kita cenderung menolak sesuatu yang terasa terlalu berat.
Target besar bisa membuat kita berpikir bahwa pekerjaan tersebut melelahkan bahkan sebelum memulainya.
Sebaliknya, target kecil terasa lebih mudah diterima.
Dan setelah dimulai, sering kali kita mampu melakukan lebih banyak daripada yang direncanakan.
Tetapi kalau hari itu memang hanya mampu melakukan sedikit, tidak masalah.
Konsistensi tidak selalu berarti melakukan sesuatu dalam jumlah besar.
Kadang konsistensi hanya berarti tetap bergerak meskipun langkahnya kecil.
“Nakal” Boleh, Asal Jangan Merugikan
Dari lima trik tadi, sebenarnya ada satu prinsip yang penting.
Menjadi cerdik bukan berarti harus mengakali orang lain.
Kita bisa mencari jalan yang lebih praktis tanpa berbohong.
Kita bisa menjaga waktu tanpa bersikap kasar.
Kita bisa menghemat uang tanpa menipu penjual.
Kita bisa meminta bantuan tanpa memanfaatkan orang lain.
Dan kita bisa mencari cara yang lebih mudah tanpa melanggar aturan.
Ada perbedaan besar antara cerdik dan licik.
Cerdik mencari solusi yang menguntungkan tanpa merugikan pihak lain.
Licik mencari keuntungan dengan membuat orang lain menanggung kerugian.
Jadi, sebelum menggunakan sebuah trik, coba tanyakan kepada diri sendiri:
“Kalau orang lain melakukan hal yang sama kepada saya, apakah saya masih merasa itu wajar?”
Kalau jawabannya iya, kemungkinan besar cara tersebut masih berada dalam batas yang sehat.
Kalau jawabannya tidak, mungkin kita perlu memikirkan cara lain.
Rangkuman 5 Trik Nakal yang Bisa Dicoba
Kalau disederhanakan, lima trik tadi adalah:
1. Jangan buru-buru bilang iya.
Berikan waktu untuk berpikir sebelum menerima permintaan orang lain.
2. Berani bertanya soal harga dan pilihan.
Tidak perlu malu mencari pilihan yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan.
3. Pecah pekerjaan besar menjadi bagian kecil.
Jangan membuat otak merasa sedang menghadapi gunung kalau sebenarnya kita hanya perlu menaiki beberapa anak tangga.
4. Berani mengatakan “saya belum tahu”.
Bertanya lebih baik daripada berpura-pura mengerti lalu melakukan kesalahan.
5. Jangan menunggu mood.
Mulai dari target kecil agar sesuatu lebih mudah dilakukan secara konsisten.
Kelihatannya sederhana.
Bahkan mungkin beberapa di antaranya sudah pernah kamu lakukan tanpa sadar.
Namun, masalah dalam kehidupan sehari-hari memang sering bukan karena kita tidak tahu solusi besar.
Kadang kita hanya belum menemukan cara kecil yang cocok untuk mengurangi beban.
Penutup
Hidup tidak selalu membutuhkan strategi yang rumit.
Kadang kita hanya perlu sedikit lebih berani bertanya, sedikit lebih tegas menjaga waktu, dan sedikit lebih cerdik mengatur cara menyelesaikan sesuatu.
Tidak semua hal harus dilakukan dengan cara yang sama seperti orang lain.
Selama tidak merugikan, tidak menipu, dan tidak melanggar aturan, mencari jalan yang lebih praktis adalah sesuatu yang wajar.
Mungkin inilah maksud sebenarnya dari “trik nakal” dalam kehidupan sehari-hari.
Bukan menjadi orang yang licik.
Bukan mencari keuntungan dari kesulitan orang lain.
Tetapi belajar menggunakan akal sehat agar hidup tidak terasa lebih berat dari yang seharusnya.
Pada akhirnya, menjadi dewasa bukan hanya tentang bekerja keras.
Kita juga perlu belajar kapan harus berkata iya, kapan harus berkata tidak, kapan harus bertanya, dan kapan harus mencari cara yang lebih sederhana.
Kalau kamu punya trik sederhana lain yang sering kamu gunakan dalam kehidupan sehari-hari, boleh ceritakan di kolom komentar.
Bisa jadi trik yang menurutmu biasa saja justru berguna bagi orang lain.
Posting Komentar