Tidak Semua Hal Harus Dikejar, Ada Saatnya Kamu Belajar Menikmati Hidup

Daftar Isi

orang menikmati hidup

Ilustrasi: Seseorang sedang menikmati hidup dengan mendengarkan musik(sumber gambar:pixabay.com)  

Tidak Semua Hal Harus Dikejar, Ada Saatnya Kamu Belajar Menikmati Hidup

Pernahkah kamu merasa seperti sedang berlari, tetapi tidak benar-benar tahu ke mana tujuanmu?

Bukan karena kamu malas. Justru sebaliknya. Kamu bangun pagi, bekerja, mengejar target, membalas pesan, memikirkan masa depan, lalu tidur dengan kepala yang masih penuh dengan daftar hal yang belum selesai.

Hari demi hari terasa produktif, tetapi anehnya, hati justru semakin lelah.

Mungkin kita terlalu sering diajarkan bahwa hidup adalah perlombaan. Siapa yang lebih cepat lulus, siapa yang lebih cepat mendapatkan pekerjaan, siapa yang lebih cepat membeli rumah, menikah, memiliki mobil, atau mencapai kesuksesan.

Padahal, tidak semua hal harus dikejar.

Ada saatnya kita berhenti sejenak dan belajar menikmati hidup.

Sebuah Kejadian yang Terasa Nyata

Suatu sore, seorang pria bernama Dimas duduk sendirian di sebuah warung kopi kecil setelah pulang kerja.

Usianya tiga puluh dua tahun.

Di atas meja ada secangkir kopi yang sudah hampir dingin. Tangannya masih memegang ponsel. Jarinya terus menggulir layar, melihat unggahan teman-temannya.

Seorang teman baru membeli rumah.

Teman lain mengumumkan promosi jabatan.

Ada yang sedang liburan ke Jepang.

Ada pula yang mengunggah foto bersama anak pertamanya.

Dimas tersenyum kecil.

Bukan karena ikut bahagia.

Lebih tepatnya, ia sedang berusaha terlihat baik-baik saja.

Dalam hati ia mulai bertanya.

"Kenapa hidup orang lain seperti berjalan lebih cepat?"

Padahal pagi tadi, Dimas baru saja menyelesaikan laporan penting di kantor. Atasannya memuji pekerjaannya. Ia memiliki keluarga yang sehat. Tidak punya utang besar. Bahkan masih bisa menabung setiap bulan.

Tetapi semua hal itu mendadak terasa tidak berarti setelah melihat kehidupan orang lain di layar ponselnya.

Ia menatap kopi.

Sudah dingin.

Saat itulah pemilik warung datang dan berkata,

"Kopinya dari tadi belum diminum. Sayang, nanti habis dingin."

Kalimat sederhana.

Namun, entah mengapa, Dimas terdiam.

Ia menyadari sesuatu.

Selama satu jam terakhir, ia sibuk memperhatikan hidup orang lain sampai lupa menikmati kopi yang sudah ia pesan.

Dan mungkin, pikirnya, itulah yang selama ini terjadi dalam hidupnya.

Ia terlalu sibuk mengejar sesuatu yang belum dimiliki, sampai lupa menikmati apa yang sebenarnya sudah ada.

Kejadian seperti ini mungkin tidak benar-benar dialami oleh Dimas. Namun, rasanya sangat dekat dengan kehidupan banyak orang.

Mungkin juga dengan kita.

Kita Hidup di Dunia yang Selalu Menyuruh Berlari

Sejak kecil, kita sering mendengar kalimat seperti:

"Belajar yang rajin supaya sukses."

"Jangan kalah sama teman."

"Harus punya cita-cita besar."

"Jangan cepat puas."

Nasihat-nasihat tersebut tidak salah.

Masalahnya muncul ketika kita mulai percaya bahwa berhenti sejenak sama dengan gagal.

Kita merasa bersalah saat beristirahat.

Merasa tertinggal ketika tidak sibuk.

Merasa kurang ketika hidup terasa biasa-biasa saja.

Akhirnya, hidup berubah menjadi daftar pencapaian.

Setelah lulus, kita mengejar pekerjaan.

Setelah mendapat pekerjaan, kita mengejar kenaikan gaji.

Setelah gaji naik, kita ingin rumah.

Setelah punya rumah, kita ingin kendaraan.

Setelah itu, ada target lain.

Dan selalu ada target lain.

Seolah kebahagiaan berada satu langkah di depan.

Masalahnya, langkah itu terus bergeser.

Saat kita sampai, tujuan baru sudah muncul.

Kita pun terus berlari.

Tanpa pernah benar-benar bertanya,

"Apakah aku masih menikmati perjalanan ini?"

Tidak Semua Keinginan Harus Dipenuhi

Manusia memiliki keinginan yang hampir tidak ada habisnya.

Hari ini ingin ponsel baru.

Bulan depan ingin laptop.

Tahun depan ingin rumah.

Setelah itu, ingin sesuatu yang lebih besar lagi.

Memiliki keinginan bukan hal buruk.

Keinginan bisa menjadi motivasi.

Namun, ketika semua keinginan dianggap wajib dipenuhi, hidup mulai terasa berat.

Tidak semua barang yang kita lihat harus dimiliki.

Tidak semua tempat yang kita lihat harus dikunjungi.

Tidak semua pencapaian orang lain harus kita tiru.

Kadang kita membeli sesuatu bukan karena membutuhkannya, tetapi karena takut terlihat tertinggal.

Kita mengejar jabatan bukan karena menyukai pekerjaannya, tetapi karena merasa usia sudah seharusnya berada di posisi tertentu.

Kita bahkan kadang memaksakan hubungan hanya karena melihat teman-teman sudah menikah.

Padahal hidup bukan daftar tugas yang harus diselesaikan sesuai jadwal orang lain.

Membandingkan Diri Adalah Perlombaan Tanpa Garis Akhir

Salah satu alasan kita terus mengejar adalah kebiasaan membandingkan diri.

Media sosial membuat kehidupan orang lain terlihat sempurna.

Kita melihat hasil akhirnya.

Bukan prosesnya.

Kita melihat rumahnya.

Bukan cicilannya.

Kita melihat liburannya.

Bukan lemburnya.

Kita melihat senyumnya.

Bukan masalah yang mungkin sedang ia sembunyikan.

Namun, pikiran kita jarang memikirkan hal tersebut.

Yang kita lihat hanya satu kesimpulan.

"Dia lebih berhasil daripada aku."

Dari situlah rasa kurang muncul.

Padahal jika kita membandingkan kehidupan kita dengan jutaan orang, akan selalu ada seseorang yang lebih kaya, lebih pintar, lebih terkenal, atau lebih muda.

Tidak mungkin menang.

Sebab perlombaannya tidak pernah selesai.

Mungkin salah satu bentuk kedewasaan adalah menyadari bahwa kita tidak perlu menang dalam kehidupan orang lain.

Cukup jalani kehidupan sendiri dengan baik.

 

Istirahat Bukan Berarti Menyerah

Ada masa ketika tubuh dan pikiran meminta untuk berhenti.

Namun, kita sering mengabaikannya.

Kita berkata,

"Nanti saja istirahatnya."

"Sekarang harus fokus."

"Masih banyak yang harus dikerjakan."

Hari berubah minggu.

Minggu berubah bulan.

Akhirnya, kelelahan menumpuk.

Ironisnya, kita baru berhenti ketika tubuh benar-benar tidak sanggup.

Padahal beristirahat bukan tanda kelemahan.

Seorang pelari tidak berlari tanpa henti.

Ia mengatur napas.

Seorang musisi tidak memainkan musik tanpa jeda.

Justru jeda membuat lagu terdengar indah.

Hidup pun demikian.

Jeda bukan penghenti perjalanan.

Jeda adalah bagian dari perjalanan.

Menikmati Hal-Hal Sederhana

Ketika hidup terasa berat, kita sering berpikir bahwa kebahagiaan membutuhkan sesuatu yang besar.

Liburan.

Uang banyak.

Pekerjaan impian.

Padahal kebahagiaan sering datang dari hal-hal kecil.

Minum teh hangat saat hujan.

Makan bersama keluarga tanpa terburu-buru.

Berjalan kaki di pagi hari.

Mendengar suara anak-anak bermain.

Membaca buku tanpa memikirkan pekerjaan.

Mengobrol dengan teman lama.

Hal-hal tersebut mungkin sederhana.

Namun, justru sering menjadi kenangan yang paling lama tinggal.

Masalahnya, kita terlalu sibuk menunggu momen besar hingga tidak menyadari bahwa hidup sebagian besar terdiri dari momen-momen kecil.

Kita Tidak Harus Produktif Setiap Saat

Budaya produktivitas membuat kita merasa bahwa setiap waktu harus menghasilkan sesuatu.

Jika hari Minggu hanya tidur, kita merasa bersalah.

Jika kita duduk santai selama satu jam, kita merasa membuang waktu.

Padahal manusia bukan mesin.

Tidak semua waktu harus menghasilkan uang.

Tidak semua hobi harus menjadi bisnis.

Tidak semua kemampuan harus dimonetisasi.

Ada hal-hal yang boleh dilakukan hanya karena membuat kita bahagia.

Memasak karena suka.

Menanam bunga.

Menggambar.

Memancing.

Bersepeda.

Mendengarkan musik.

Tanpa target.

Tanpa angka.

Tanpa tuntutan.

Melakukan sesuatu hanya karena menikmatinya adalah salah satu cara sederhana untuk kembali merasa hidup.

Kesuksesan Tidak Selalu Berarti Memiliki Lebih Banyak

Banyak orang mengejar kesuksesan dengan bayangan kehidupan mewah.

Namun, setelah mendapatkannya, sebagian justru merasa kosong.

Mengapa?

Kesuksesan yang dibangun hanya dari pengakuan orang lain sering tidak memberikan ketenangan.

Mungkin definisi sukses perlu diperluas.

Sukses bisa berarti:

  • Tidur dengan tenang.
  • Memiliki orang-orang yang menyayangi kita.
  • Pekerjaan yang cukup untuk hidup layak.
  • Waktu untuk keluarga.
  • Pikiran yang tidak selalu dipenuhi kecemasan.

Bagi sebagian orang, mungkin terdengar sederhana.

Namun, tidak sedikit orang yang memiliki banyak hal tetapi kehilangan semua itu.

Belajar Berkata Cukup

Kata "cukup" mungkin terdengar sederhana, tetapi sulit dipraktikkan.

Kita sering berpikir bahwa kebahagiaan akan datang setelah memiliki sedikit lagi.

Sedikit lebih banyak uang.

Sedikit lebih tinggi jabatan.

Rumah sedikit lebih besar.

Masalahnya, kata sedikit tidak pernah benar-benar selesai.

Belajar berkata cukup bukan berarti berhenti berkembang.

Bukan berarti tidak punya ambisi.

Artinya, kita mampu menghargai apa yang sudah dimiliki sambil tetap bertumbuh.

Kita bisa ingin lebih baik tanpa membenci keadaan saat ini.

Kita bisa punya mimpi tanpa kehilangan rasa syukur.

Itulah keseimbangan yang sering sulit ditemukan.

Ada Musim untuk Mengejar, Ada Musim untuk Menikmati

Hidup memiliki fase.

Ada masa ketika kita memang perlu bekerja keras.

Membangun karier.

Belajar.

Mengumpulkan pengalaman.

Namun, ada juga masa ketika kita perlu berhenti sejenak.

Menengok keluarga.

Merawat kesehatan.

Menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat.

Tidak semua musim harus digunakan untuk berlari.

Petani tidak memanen setiap hari.

Ada masa menanam.

Ada masa untuk merawat.

Ada masa menunggu.

Dan ada masa memanen.

Kita pun demikian.

Jika terus memaksa diri berada dalam mode mengejar, kita mungkin kehilangan kesempatan menikmati hasil dari perjalanan yang sudah ditempuh.

Ketika Hidup Tidak Sesuai Rencana

Kadang kita mengejar sesuatu bertahun-tahun, lalu ternyata tidak mendapatkannya.

Pekerjaan yang diinginkan.

Usaha yang gagal.

Hubungan yang berakhir.

Rencana yang berubah.

Awalnya terasa seperti kekalahan.

Namun, beberapa tahun kemudian, kita mungkin menyadari bahwa jalan tersebut memang bukan untuk kita.

Banyak orang baru memahami arti sebuah kegagalan setelah waktu berlalu.

Apa yang dulu dianggap akhir ternyata hanya belokan.

Hidup tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan.

Namun, sering kali memberikan sesuatu yang kita butuhkan, meskipun kita baru memahaminya nanti.

Menikmati Hidup Bukan Berarti Kehilangan Ambisi

Ini penting.

Belajar menikmati hidup bukan berarti menjadi pasif.

Bukan berarti berhenti bermimpi.

Bukan berarti puas dengan keadaan yang tidak sehat.

Kita tetap boleh punya tujuan.

Tetap boleh ingin berkembang.

Tetap boleh bekerja keras.

Yang berubah adalah cara kita menjalani semuanya.

Kita tidak lagi menjadikan pencapaian sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan.

Kita belajar bahagia selama proses.

Bukan hanya ketika sampai di tujuan.

Karena jika kita hanya bahagia saat tujuan tercapai, sebagian besar hidup akan dihabiskan dalam penantian.

Beberapa Cara Belajar Menikmati Hidup

Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba.

1. Kurangi membandingkan diri

Batasi waktu melihat kehidupan orang lain jika membuatmu merasa kurang.

Fokus pada perjalanan sendiri.

2. Sisihkan waktu tanpa tujuan

Tidak perlu setiap jam memiliki agenda.

Biarkan diri menikmati waktu kosong.

3. Bersyukur secara sederhana

Setiap malam, pikirkan tiga hal kecil yang berjalan dengan baik hari itu.

Bukan hal besar.

Hal sederhana pun cukup.

4. Rawat hubungan

Kesuksesan terasa hambar jika tidak ada orang yang bisa diajak berbagi.

Luangkan waktu untuk keluarga dan teman.

5. Dengarkan tubuh

Jika lelah, istirahat.

Jika sedih, akui.

Jika butuh bantuan, jangan ragu meminta.

Merawat diri bukan egois.

Itu adalah bentuk tanggung jawab terhadap kehidupan sendiri.

Hidup Bukan Kompetisi yang Harus Dimenangkan

Bayangkan jika hidup benar-benar perlombaan.

Siapa pemenangnya?

Orang terkaya?

Orang paling terkenal?

Orang dengan jabatan tertinggi?

Tidak ada jawaban yang benar.

Karena setiap orang memiliki ukuran kebahagiaan yang berbeda.

Ada orang yang bahagia tinggal di kota.

Ada yang lebih bahagia di desa.

Ada yang menikmati pekerjaan yang sibuk.

Ada yang lebih memilih hidup sederhana.

Jika semua orang harus mengikuti definisi sukses yang sama, dunia akan menjadi tempat yang sangat membosankan.

Keindahan hidup justru terletak pada keberagaman pilihan.

" Kembali kepada Dimas"

Sore itu, Dimas akhirnya meminum kopinya.

Memang sudah tidak sepanas tadi.

Namun, ia menikmatinya perlahan.

Ia menaruh ponsel di meja.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia memperhatikan suasana sekitar.

Suara motor lewat.

Orang-orang bercakap-cakap.

Langit mulai berubah warna.

Tidak ada pencapaian besar.

Tidak ada kabar luar biasa.

Hanya sore biasa.

Namun, entah mengapa, ia merasa lebih tenang.

Dimas tidak tiba-tiba menjadi kaya.

Tidak mendapat promosi.

Tidak menyelesaikan semua masalah.

Yang berubah hanya satu hal.

Ia berhenti mengejar selama beberapa menit.

Dan ternyata, dunia tidak runtuh.

Mungkin kita semua membutuhkan momen seperti itu.

Bukan untuk menyerah.

Bukan untuk berhenti bermimpi.

Tetapi ingatlah bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang belum kita miliki.

Hidup juga tentang apa yang sedang kita jalani.

Tentang kopi yang mulai dingin.

Tentang percakapan sederhana.

Tentang orang-orang yang masih ada.

Tentang tubuh yang masih bisa bernapas.

Tentang hari ini.

Karena suatu saat nanti, mungkin kita akan menyadari bahwa momen-momen biasa yang dulu terasa sepele justru menjadi bagian paling berharga dalam hidup.

Rangkuman

Tidak semua hal harus dikejar. Memiliki ambisi dan tujuan hidup memang penting, tetapi terus-menerus mengejar pencapaian tanpa memberi ruang untuk beristirahat dapat membuat kita kehilangan makna perjalanan itu sendiri.

Kita sering merasa tertinggal karena membandingkan hidup dengan orang lain, padahal setiap orang memiliki waktu, jalan, dan definisi sukses yang berbeda. 

Media sosial hanya memperlihatkan sebagian kecil kehidupan seseorang, bukan seluruh proses yang mereka jalani.

Belajar menikmati hidup bukan berarti berhenti bermimpi atau kehilangan semangat. 

Justru dengan memberi jeda, menghargai hal-hal sederhana, merawat hubungan, dan bersyukur atas apa yang sudah dimiliki, kita dapat menjalani hidup dengan lebih tenang dan seimbang.

Ada masa untuk bekerja keras, ada masa untuk mengejar mimpi, dan ada masa untuk berhenti sejenak menikmati hasil perjalanan. 

Seperti lagu yang membutuhkan jeda agar terdengar indah, hidup pun membutuhkan ruang untuk bernapas.

Jadi, jika akhir-akhir ini kamu merasa lelah karena terus mengejar banyak hal, mungkin kamu tidak perlu menyerah. 

Mungkin kamu hanya perlu berhenti sebentar, menaruh ponsel, menarik napas, dan melihat sekeliling.

Bisa jadi, ada banyak hal baik yang sebenarnya sudah hadir dalam hidupmu, tetapi selama ini tidak sempat kamu nikmati karena terlalu sibuk mengejar hal berikutnya.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak yang berhasil kita kejar, melainkan seberapa sadar kita menjalani setiap langkahnya. 

Sebab tidak semua hal harus dikejar. Ada saatnya kita belajar menikmati hidup, sebelum waktu berjalan terlalu jauh dan kita menyadari bahwa perjalanan yang begitu sibuk itu sebenarnya adalah kehidupan yang sejak awal ingin kita nikmati. 

Penutup

Sekarang, bagaimana dengan kamu? Apa hal yang selama ini terlalu keras kamu kejar sampai lupa menikmati kehidupan yang sedang kamu jalani? 

Apakah pekerjaan, uang, pencapaian, hubungan, atau mungkin standar kesuksesan yang sebenarnya bukan milikmu?

Coba ceritakan pengalamanmu di kolom komentar. Tidak harus cerita besar, pengalaman sederhana pun bisa menjadi pelajaran berharga bagi pembaca lainnya. 

Siapa tahu, ceritamu justru menjadi pengingat bagi seseorang bahwa hidup tidak selalu harus berjalan cepat.

Menurutmu, kapan terakhir kali kamu benar-benar berhenti sejenak dan menikmati hidup tanpa merasa bersalah? Tulis ceritamu di kolom komentar. Mari saling berbagi pengalaman dan mengingatkan bahwa tidak apa-apa berjalan pelan, selama kita tetap menikmati perjalanan.

Ditulis oleh : Syamsul Anhar

Penulis & Pengelola AnharMedia 

Posting Komentar