Mengapa Gen Z Suka Berutang Demi Gaya Hidup? Ini Penyebab dan Dampaknya
Zaman Sudah Berubah, Ketika Validasi Sosial Lebih Mahal dari Uang
![]() |
| Ilustrasi: Seorang Gen Z melihat aplikasi PayLater dengan ekspresi bimbang, menggambarkan gaya hidup konsumtif dan utang digital. |
Jam menunjukkan pukul 22.45. Rina, 24 tahun, baru saja menutup laptop setelah seharian bekerja sebagai staf digital marketing.
Hari itu cukup melelahkan, tetapi satu notifikasi membuatnya tersenyum.
"Sepatu impianmu tinggal 2 pasang. Bayar nanti mulai Rp83.000/bulan."
Tanpa berpikir panjang, ia menekan tombol Beli Sekarang.
Padahal, di dompet digitalnya hanya tersisa Rp127.000. Gaji masih lima hari lagi. Namun baginya, itu bukan masalah.
Ada fitur pay later. Cicilan kecil terasa jauh lebih ringan dibanding membayar lunas.
Seminggu kemudian, Rina menghadiri reuni kampus. Ia datang dengan sepatu baru, tas bermerek, dan ponsel keluaran terbaru.
Banyak teman memuji penampilannya. Foto-fotonya ramai mendapat likes di Instagram.
Malam itu ia pulang dengan perasaan bangga.
Tetapi ketika membuka aplikasi keuangan, wajahnya berubah. Total cicilan yang harus dibayar bulan depan mencapai hampir separuh gajinya.
Belum termasuk tagihan kopi langganan, langganan streaming, dan cicilan ponsel.
Rina bukan orang malas. Ia juga bukan pemboros dalam arti tradisional.
Ia hanya terjebak dalam budaya yang membuat penampilan terasa lebih penting daripada kondisi keuangan.
Kisah seperti ini semakin sering terjadi di kalangan Generasi Z. Pertanyaannya bukan lagi apakah mereka punya uang, melainkan apakah mereka punya akses untuk berutang.
Lalu, mengapa Gen Z begitu mudah berhutang demi mempertahankan gaya hidup?
Fenomena Utang di Kalangan Gen Z Bukan Sekadar Soal Uang
Generasi Z adalah mereka yang lahir sekitar tahun 1997–2012. Mereka tumbuh bersama internet, media sosial, dan ekonomi digital.
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang mengenal tabungan sejak kecil, Gen Z lebih akrab dengan konsep bayar nanti.
Hari ini, membeli barang tidak lagi membutuhkan uang tunai.
Cukup beberapa sentuhan di layar, produk datang ke rumah, sementara tagihannya menyusul bulan depan.
Kemudahan inilah yang mengubah cara banyak orang memandang utang.
Dulu utang identik dengan keadaan darurat: biaya rumah sakit, modal usaha, atau kebutuhan mendesak.
Kini utang sering digunakan untuk membeli barang yang sebenarnya bisa ditunda, mulai dari sepatu, skincare, gadget, hingga tiket konser.
Masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada kebiasaan konsumsi yang terbentuk.
1. Media Sosial Menciptakan Standar Hidup yang Tidak Nyata
Coba buka Instagram atau TikTok selama lima menit.
Kamu akan melihat orang liburan ke Jepang, nongkrong di kafe estetik, memakai sneakers terbaru, menggunakan iPhone terbaru, dan tampil seolah hidup tanpa masalah.
Padahal media sosial hanyalah potongan terbaik dari kehidupan seseorang.
Gen Z mengonsumsi ratusan bahkan ribuan konten setiap hari. Tanpa sadar, otak mulai menganggap bahwa kehidupan mewah adalah sesuatu yang normal.
Fenomena ini dikenal sebagai social comparison, yaitu kecenderungan membandingkan hidup sendiri dengan orang lain.
Akibatnya muncul pikiran seperti:
"Teman seumuranku sudah punya mobil."
"Semua orang pakai iPhone."
"Kalau aku masih pakai HP lama, malu."
Padahal kenyataannya, banyak konten tersebut dibuat dengan sponsor, pinjaman, atau bahkan hasil cicilan.
Ironisnya, seseorang bisa terlihat kaya di media sosial sambil diam-diam terlilit utang.
2. PayLater Membuat Harga Terasa Lebih Murah
Secara psikologis, manusia lebih mudah mengeluarkan uang ketika rasa sakit saat membayar berkurang.
Misalnya sebuah sepatu seharga Rp2.400.000.
Kalau harus membayar sekaligus, banyak orang berpikir dua kali.
Namun ketika muncul pilihan:
Hanya Rp200.000 x 12 bulan
Otak langsung merasa itu murah.
Padahal total yang dibayar bisa lebih besar karena bunga atau biaya layanan.
Inilah yang disebut mental accounting: kita lebih fokus pada cicilan bulanan daripada harga sebenarnya.
Bagi Gen Z yang baru memiliki penghasilan, angka Rp150.000 terlihat kecil. Masalah muncul ketika ada lima cicilan berbeda yang masing-masing terasa "kecil".
Akhirnya:
Cicilan | Nominal |
|---|---|
HP | Rp450.000 |
Sepatu | Rp180.000 |
Skincare | Rp120.000 |
Tiket konser | Rp300.000 |
Headset | Rp150.000 |
Total | Rp1.200.000 |
Satu cicilan mungkin ringan. Lima cicilan bisa mencekik.
3. FOMO: Takut Tertinggal dari Teman
FOMO atau Fear of Missing Out menjadi salah satu alasan terbesar Gen Z menghabiskan uang.
Mereka tidak ingin menjadi satu-satunya yang tidak ikut:
Konser,
Liburan,
Nongkrong,
Membeli barang viral,
Mencoba restoran baru.
Masalahnya, banyak keputusan finansial akhirnya didasarkan pada rasa takut, bukan kebutuhan.
Kalimat yang sering muncul adalah:
"Mumpung semua ikut."
Padahal, mengikuti semua tren hampir mustahil.
Tren berubah setiap minggu, tetapi cicilan bisa bertahan berbulan-bulan.
![]() |
| Ilustrasi : Seorang wanita membeli gadget dari berhutang |
4. Gaya Hidup Dijadikan Identitas Diri
Dulu orang dinilai dari profesinya.
Sekarang sering kali orang dinilai dari apa yang mereka pakai.
Sneakers tertentu dianggap keren.
Kopi tertentu dianggap berkelas.
Laptop tertentu dianggap sukses.
Tanpa sadar, barang berubah menjadi identitas.
Akibatnya muncul fenomena konsumsi simbolik, yaitu membeli bukan karena fungsi, tetapi karena makna sosial.
Contohnya:
Membeli jam tangan agar terlihat profesional,
Membeli tas bermerek agar dianggap mapan,
Membeli gadget terbaru agar tidak dianggap ketinggalan.
Padahal rasa percaya diri yang dibangun dari barang biasanya tidak bertahan lama.
Begitu muncul model baru, keinginan membeli kembali muncul.
5. Banyak yang Belum Pernah Belajar Literasi Keuangan
Ini adalah akar masalah yang sering diabaikan.
Sebagian besar Gen Z belajar matematika di sekolah, tetapi tidak belajar:
Cara membuat anggaran,
Mengelola utang,
Memahami bunga,
Membangun dana darurat,
Investasi dasar.
Akibatnya, saat menerima gaji pertama, banyak yang langsung fokus pada peningkatan gaya hidup.
Padahal urutan yang sehat seharusnya berbeda.
Prioritas keuangan yang ideal:
Kebutuhan pokok
Dana darurat
Tabungan
Investasi
Hiburan
Sayangnya, banyak orang membalik urutannya menjadi:
Hiburan
Belanja
Nongkrong
Cicilan
Bingung akhir bulan
6. Budaya "Self Reward" yang Sering Disalahartikan
Self reward sebenarnya bukan hal buruk.
Memberi hadiah kepada diri sendiri setelah bekerja keras bisa meningkatkan motivasi.
Yang menjadi masalah adalah ketika setiap stres dijawab dengan belanja.
Contohnya:
Capek kerja → beli sepatu,
Dimarahi bos → checkout skincare,
Putus cinta → pesan gadget,
Lembur → beli jam tangan.
Belanja berubah menjadi terapi emosional.
Sayangnya, rasa senang itu biasanya hanya bertahan singkat.
Setelah paket datang, muncul tagihan. Lalu stres kembali.
Siklusnya berulang.
Dampak Utang Demi Gaya Hidup yang Jarang Dibicarakan
1. Gaji Selalu Habis Sebelum Akhir Bulan
Banyak pekerja muda sebenarnya memiliki penghasilan yang cukup.
Masalahnya bukan pendapatan, melainkan komitmen cicilan.
Ketika 40–60% gaji sudah dialokasikan untuk membayar utang, ruang bernapas menjadi sempit.
Akibatnya, setiap ada kebutuhan mendadak, solusinya kembali berutang.
2. Sulit Membangun Dana Darurat
Dana darurat adalah penyelamat ketika kehilangan pekerjaan atau mengalami musibah.
Namun orang yang terbiasa mencicil sering kali berkata:
"Nanti saja nabung kalau cicilan selesai."
Masalahnya, cicilan hampir tidak pernah benar-benar selesai.
Selalu ada barang baru yang menggoda.
3. Kesehatan Mental Ikut Terdampak
Utang bukan hanya angka.
Ia juga membawa tekanan psikologis.
Beberapa gejala yang sering muncul antara lain:
Sulit tidur menjelang tanggal jatuh tempo,
Cemas melihat notifikasi tagihan,
Merasa bersalah setelah belanja,
Kehilangan motivasi bekerja karena gaji langsung habis.
Ironisnya, utang yang awalnya dibuat agar terlihat bahagia justru bisa mengurangi kebahagiaan.
Benarkah Semua Gen Z Boros?
Jawabannya: Tidak.
Menggeneralisasi seluruh Gen Z juga tidak adil.
Banyak anak muda justru sangat sadar finansial. Mereka:
Hidup sederhana,
Menabung rutin,
Berinvestasi sejak usia 20-an,
Menghindari utang konsumtif,
Membangun bisnis sampingan.
Yang sering viral hanyalah perilaku konsumtif, sehingga muncul kesan bahwa seluruh generasi seperti itu.
Padahal selalu ada dua sisi.
Tanda Kamu Mulai Terjebak Gaya Hidup Berutang
Coba jawab pertanyaan berikut dengan jujur.
Apakah kamu membeli barang karena takut ketinggalan tren?
FOMO lebih sering memimpin keputusan daripada kebutuhan.Apakah cicilanmu lebih dari 30% penghasilan?
Semakin besar porsinya, semakin sempit ruang napas keuangan.Apakah kamu sering checkout saat sedang sedih?
Belanja emosional memberi lega sesaat, lalu meninggalkan tagihan.Apakah gaji berikutnya sudah habis sebelum diterima?
Itu tanda komitmen utang mulai mengendalikan arus kas.Apakah kamu lebih mementingkan terlihat kaya daripada benar-benar stabil?
Validasi sosial sering terasa mahal ketika dibayar dengan utang.Kalau menjawab "ya" lebih dari tiga, mungkin sudah waktunya mengevaluasi kebiasaan finansial.
Cara Keluar dari Jebakan Utang Tanpa Kehilangan Gaya
Hidup hemat bukan berarti hidup menyedihkan. Tujuannya bukan berhenti menikmati hidup, melainkan menikmati hidup tanpa dikejar tagihan.
1. Bedakan Ingin dan Butuh
Sebelum membeli sesuatu, tanyakan:
"Kalau barang ini tidak bisa diposting di Instagram, apakah aku masih ingin membelinya?"
Pertanyaan sederhana ini sering memberi jawaban yang jujur.
2. Terapkan Aturan 72 Jam
Jangan langsung checkout.
Simpan di keranjang selama tiga hari.
Jika setelah 72 jam masih benar-benar membutuhkan, pertimbangkan membeli.
Sering kali keinginan impulsif hilang dengan sendirinya.
3. Batasi Cicilan Maksimal 20% Gaji
Misalnya gaji Rp5 juta.
Idealnya total cicilan tidak lebih dari Rp1 juta.
Batas ini memberi ruang untuk menabung dan menghadapi kebutuhan tak terduga.
4. Bangun Gaya Hidup Berdasarkan Nilai, Bukan Tren
Cobalah bertanya:
Apa yang benar-benar membuatku bahagia?
Apakah nongkrong mahal selalu lebih menyenangkan?
Apakah barang baru benar-benar meningkatkan kualitas hidup?
Banyak orang menemukan bahwa kebahagiaan datang dari pengalaman, hubungan, dan kesehatan, bukan sekadar barang.
5. Mulai Menabung Sebelum Belanja
Gunakan prinsip sederhana:
Simpan dulu, baru gunakan sisanya.
Bukan sebaliknya.
Bahkan menabung 10% setiap bulan jauh lebih baik daripada menunggu punya uang lebih.
Peran Orang Tua dan Lingkungan Juga Penting
Gen Z tidak hidup dalam ruang kosong.
Mereka tumbuh di lingkungan yang terus mendorong konsumsi.
Iklan semakin personal.
Influencer semakin meyakinkan.
Algoritma tahu apa yang kita sukai.
Karena itu, solusi tidak bisa hanya menyalahkan individu.
Orang tua bisa mulai mengajarkan anak mengenai uang sejak dini.
Sekolah dapat memasukkan literasi keuangan sebagai keterampilan hidup.
Perusahaan juga bisa memberikan edukasi finansial kepada karyawan muda.
Semakin cepat seseorang memahami cara kerja utang, semakin kecil kemungkinan ia terjebak di dalamnya.
Masa Depan Bukan Ditentukan oleh Barang yang Dimiliki
Ada sebuah ironi yang menarik.
Banyak orang bekerja keras agar terlihat sukses.
Padahal kesuksesan sejati justru ditandai oleh kebebasan memilih.
Seseorang yang bebas dari utang konsumtif memiliki lebih banyak pilihan:
Bisa resign tanpa panik,
Bisa membantu orang tua,
Bisa memulai usaha,
Bisa menabung untuk rumah,
Bisa berlibur tanpa dibiayai cicilan.
Sebaliknya, orang yang tampak mewah belum tentu memiliki kebebasan finansial.
Kemewahan dan kekayaan bukanlah hal yang sama.
Kemewahan terlihat dari luar.
Kesehatan finansial terasa di dalam.
FAQ ( Sering Menjadi Pertanyaan )
Apakah Gen Z paling banyak berutang?
Tidak selalu. Banyak Gen Z justru memiliki kebiasaan finansial yang baik. Namun, mereka merupakan generasi yang paling dekat dengan layanan kredit digital seperti pay later, sehingga risiko utang konsumtif menjadi lebih tinggi.
Apakah PayLater selalu buruk?
Tidak. PayLater bisa menjadi alat pembayaran yang bermanfaat jika digunakan secara disiplin, dibayar tepat waktu, dan hanya untuk kebutuhan yang benar-benar diperlukan. Masalah muncul ketika digunakan untuk memenuhi gaya hidup.
Berapa batas aman cicilan dari gaji?
Banyak perencana keuangan menyarankan total cicilan tidak melebihi 20–30% dari penghasilan bulanan agar kebutuhan pokok, tabungan, dan dana darurat tetap dapat terpenuhi.
Bagaimana cara menghentikan kebiasaan belanja impulsif?
Beberapa langkah efektif adalah menerapkan aturan 72 jam sebelum membeli, membuat anggaran bulanan, menghapus notifikasi promo, serta menghindari belanja saat sedang emosional.
Kesimpulan
Mengapa Gen Z suka berhutang demi gaya hidup?
Jawabannya bukan karena mereka lebih boros daripada generasi lain, melainkan karena mereka hidup di era ketika konsumsi dibuat sangat mudah, validasi sosial begitu kuat, dan utang hadir hanya dalam satu klik.
Media sosial menciptakan standar hidup yang sering kali tidak realistis.
Fitur pay later mengurangi rasa sakit saat membayar.
FOMO mendorong keputusan impulsif, sementara minimnya literasi keuangan membuat banyak anak muda belum memahami konsekuensi jangka panjang dari utang konsumtif.
Namun kabar baiknya, kebiasaan bisa diubah. Dengan membedakan kebutuhan dan keinginan, membatasi cicilan, menabung lebih dulu, serta membangun identitas di luar barang yang dimiliki, Gen Z dapat menikmati hidup tanpa harus mengorbankan masa depan finansialnya.
Pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting bukanlah "Apakah aku mampu mencicilnya?" melainkan "Apakah barang ini benar-benar sepadan dengan kebebasan finansial yang mungkin harus kukorbankan?"
Di Tulis Oleh : Syamsul Anhar
Penulis & Pengelola AnharMedia


Posting Komentar