Mengapa Banyak Sarjana Menjadi Ojol? Ini Alasan dan Realitas di Balik Dunia Kerja
![]() |
| Ilustrasi: Ojek online sedang menunggu orderan di salah stu jalan ibu kota |
Ada pemandangan yang semakin mudah ditemukan di jalanan kota.
Pengemudi ojek online mengenakan jaket perusahaan, berhenti di depan restoran, mengantar makanan, menunggu pesanan berikutnya.
Lalu kembali bergerak ketika ponselnya berbunyi.
Di antara mereka, tidak sedikit yang memiliki gelar sarjana.
Mungkin ada yang pernah kuliah empat tahun.
Mengerjakan tugas hingga larut malam.
Mengikuti seminar, menyusun skripsi, lalu melewati wisuda dengan harapan sederhana.
Yaitu mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan dan bisa membangun kehidupan yang lebih baik.
Namun setelah wisuda, kenyataan ternyata tidak selalu mengikuti rencana.
Lamaran kerja sudah dikirim berkali-kali.
Panggilan wawancara datang sesekali.
Ada yang berhasil sampai tahap akhir tetapi tidak diterima.
Ada pula yang mendapatkan pekerjaan, tetapi gajinya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Sebagian akhirnya memilih menjadi pengemudi ojek online.
Pertanyaannya kemudian muncul: mengapa sarjana banyak menjadi ojol?
Jawabannya tidak sesederhana “karena sulit mendapatkan pekerjaan”.
Di balik keputusan tersebut ada persoalan yang lebih luas.
Misalnya
- Perubahan dunia kerja
- Persaingan tenaga kerja
- Ketidaksesuaian antara pendidikan dan kebutuhan industri
- Kebutuhan ekonomi
- Pengalaman kerja
- Lokasi tempat tinggal
Hingga perubahan cara seseorang memandang karier dan pekerjaan.
Menjadi ojol juga tidak otomatis berarti seseorang gagal memanfaatkan gelar sarjananya.
Bagi sebagian orang, pekerjaan tersebut justru menjadi solusi sementara ketika membutuhkan penghasilan cepat dan fleksibilitas.
Yang perlu kita lihat bukan semata-mata profesinya, tetapi mengapa seseorang sampai memilih pekerjaan tersebut dan apa yang bisa dipelajari dari fenomena itu.
Mengapa Sarjana Banyak Menjadi Ojol?
Sebelum membahas lebih jauh, kita perlu menghindari satu kesalahan berpikir, menganggap semua sarjana seharusnya bekerja di kantor.
Gelar sarjana adalah bukti bahwa seseorang telah menyelesaikan pendidikan tinggi pada bidang tertentu.
Namun gelar tidak otomatis menjadi tiket menuju pekerjaan dengan jabatan tinggi.
Dunia kerja memiliki mekanisme dan dunianya sendiri.
Perusahaan mempertimbangkan pengalaman, kemampuan teknis, komunikasi, kemampuan beradaptasi, portofolio, kebutuhan posisi, bahkan kondisi ekonomi ketika melakukan perekrutan.
Karena itu, seseorang bisa memiliki gelar sarjana tetapi tetap kesulitan mendapatkan pekerjaan formal.
1. Jumlah Lulusan Terus Bertambah
Setiap tahun semakin banyak orang menyelesaikan pendidikan tinggi.
Ini tentu merupakan perkembangan positif karena masyarakat memiliki akses pendidikan yang semakin luas.
Namun dari sisi pasar kerja, pertambahan lulusan juga berarti persaingan untuk mendapatkan posisi tertentu menjadi semakin ketat.
Bayangkan sebuah perusahaan membuka sepuluh posisi, sementara ratusan orang mengirimkan lamaran.
Di antara pelamar tersebut mungkin terdapat puluhan orang yang memiliki jurusan serupa.
Pada kondisi seperti itu, perusahaan tidak hanya melihat ijazah.
Pelamar harus memiliki sesuatu yang membuatnya terlihat relevan.
Di sinilah masalah sering muncul.
Seorang sarjana mungkin memiliki nilai akademik yang baik.
Tetapi belum mempunyai pengalaman kerja, portofolio, sertifikasi, kemampuan menggunakan perangkat tertentu, atau kemampuan komunikasi yang dibutuhkan perusahaan.
Akibatnya, proses mencari pekerjaan bisa berlangsung lebih lama daripada yang diperkirakan.
2. Ada Jarak antara Dunia Kampus dan Dunia Kerja
Pendidikan memberikan fondasi penting. Namun dunia kerja sering membutuhkan kemampuan yang sangat praktis.
Seorang lulusan mungkin memahami teori pemasaran, tetapi perusahaan membutuhkan orang yang mampu menjalankan kampanye digital.
Lulusan teknik mungkin memahami konsep dasar, tetapi perusahaan mencari kandidat yang sudah terbiasa menggunakan perangkat lunak tertentu.
Lulusan komunikasi mungkin memahami teori komunikasi, tetapi posisi yang tersedia membutuhkan kemampuan membuat konten, mengelola media sosial, atau melakukan analisis data.
Ini bukan berarti pendidikan tinggi tidak berguna.
Masalahnya adalah gelar dan keterampilan kerja merupakan dua hal yang berbeda, meskipun saling berhubungan.
Sarjana perlu menerjemahkan apa yang dipelajari di kampus menjadi kemampuan yang bisa digunakan untuk memecahkan masalah nyata.
3. Pengalaman Sering Menjadi Hambatan Pertama
Salah satu ironi yang dialami pencari kerja adalah perusahaan membutuhkan pengalaman, sedangkan lulusan baru membutuhkan pekerjaan untuk mendapatkan pengalaman.
Akhirnya terbentuk lingkaran yang sulit ditembus.
Pelamar belum punya pengalaman sehingga tidak lolos.
Karena tidak lolos, pengalaman tidak bertambah.
Ketika kesempatan kerja belum datang, seseorang tetap harus memenuhi kebutuhan hidup.
Pada titik tersebut, pekerjaan dengan proses masuk yang lebih sederhana menjadi menarik.
Ojol merupakan salah satu contohnya.
Seseorang dapat menggunakan kendaraan yang dimiliki, mendaftar sesuai persyaratan platform, kemudian mulai mendapatkan penghasilan setelah memenuhi proses yang ditentukan.
Bagi orang yang membutuhkan pemasukan segera, faktor ini sangat penting.
4. Kebutuhan Ekonomi Tidak bisa Menunggu
Ini adalah alasan yang sering terlupakan ketika membicarakan karier.
Tagihan tidak menunggu seseorang mendapatkan pekerjaan ideal.
Biaya makan, transportasi, cicilan, kebutuhan keluarga, dan berbagai pengeluaran sehari-hari tetap berjalan.
Seorang sarjana yang belum memperoleh pekerjaan formal mungkin harus membuat keputusan realistis.
Daripada berbulan-bulan tidak memiliki pemasukan, ia memilih pekerjaan yang bisa memberikan pendapatan lebih cepat.
Dalam kondisi tertentu, menjadi ojol bukan pilihan akhir.
Itu bisa menjadi jembatan ekonomi.
Seseorang bisa mengemudi pada pagi hingga siang hari, lalu mengikuti kursus pada sore hari.
Ada pula yang menggunakan waktu luangnya untuk mengirim lamaran pekerjaan.
Dengan cara pandang seperti itu, pekerjaan sementara tidak harus dianggap sebagai kegagalan.
Gelar Sarjana Tidak Sama dengan Jaminan Karier
Ada sebuah ekspektasi yang cukup kuat di masyarakat: kuliah, lulus, bekerja, lalu kehidupan perlahan menjadi mapan.
Pola tersebut memang pernah terasa sederhana.
Namun dunia kerja sekarang jauh lebih dinamis.
Perusahaan berubah. Teknologi berubah. Model bisnis berubah.
Bahkan jenis pekerjaan yang populer hari ini bisa mengalami perubahan besar beberapa tahun kemudian.
Karena itu, gelar sebaiknya dipandang sebagai modal, bukan jaminan.
Gelar dapat membantu seseorang memasuki pintu tertentu.
Tetapi setelah pintu terbuka, kemampuan untuk bertahan dan berkembang akan sangat dipengaruhi oleh kompetensi lain.
Misalnya:
- Kemampuan komunikasi;
- Kemampuan memecahkan masalah;
- Kemampuan menggunakan teknologi;
- Kemampuan belajar secara mandiri;
- Kemampuan bekerja dalam tim;
- Kemampuan beradaptasi;
- Kemampuan membangun portofolio;
- Dan kemampuan memahami kebutuhan industri.
Inilah alasan seseorang dengan gelar yang sama bisa memiliki perjalanan karier yang sangat berbeda.
Mengapa Kebiasaan Penting dalam Membangun Karier?
Fenomena sarjana menjadi ojol juga bisa dilihat dari sudut pengembangan diri.
Ketika pekerjaan pertama belum datang, seseorang sebenarnya sedang berada dalam fase yang sangat menentukan.
Ada dua kemungkinan.
Pertama, seseorang merasa gagal lalu berhenti mengembangkan dirinya.
Kedua, seseorang menerima kondisi sementara tetapi tetap membangun kemampuan untuk langkah berikutnya.
Perbedaan tersebut sering kali berasal dari kebiasaan.
Kebiasaan Belajar
Tidak mendapatkan pekerjaan bukan berarti proses belajar berhenti.
Justru masa transisi dapat digunakan untuk mempelajari kemampuan yang relevan.
Misalnya lulusan administrasi belajar spreadsheet lebih mendalam.
Lulusan komunikasi belajar copywriting.
Lulusan ekonomi belajar analisis data.
Lulusan desain memperkuat portofolio.
Yang penting bukan mengikuti semua tren sekaligus.
Pilih satu kemampuan yang memiliki hubungan dengan pekerjaan yang ingin dituju.
Kebiasaan Membuat Target
Pencari kerja sering mengatakan, “Saya ingin mendapatkan pekerjaan.”
Itu merupakan tujuan, tetapi terlalu umum.
Target yang lebih operasional misalnya:
“Saya akan mengirim lima lamaran berkualitas setiap minggu.”
Atau:
“Saya akan menyelesaikan satu proyek portofolio dalam dua minggu.”
Target semacam itu memberikan sesuatu yang dapat dikendalikan.
Karena seseorang tidak bisa memaksa perusahaan menerima lamarannya.
Namun ia bisa mengendalikan jumlah lamaran, kualitas CV, kemampuan wawancara, dan keterampilan yang dipelajari.
Kebiasaan Mengevaluasi Diri
Jika puluhan lamaran tidak menghasilkan wawancara, jangan langsung menyimpulkan bahwa diri sendiri tidak layak.
Periksa prosesnya.
Apakah CV terlalu umum?
Apakah posisi yang dilamar tidak sesuai?
Apakah portofolio kurang?
Apakah pengalaman tidak dijelaskan dengan baik?
Apakah kemampuan wawancara perlu diperbaiki?
Evaluasi membuat masalah lebih konkret.
Kesalahan Umum yang Dilakukan Sarjana Saat Mencari Kerja
1. Terlalu fokus pada gelar
Kalimat seperti “Saya sudah sarjana, masa harus mulai dari bawah?” dapat menjadi jebakan.
Memulai dari bawah bukan masalah.
Yang berbahaya adalah menolak kesempatan belajar hanya karena pekerjaan pertama tidak sesuai dengan bayangan.
Karier biasanya tidak dibangun dalam satu lompatan.
2. Menunggu pekerjaan ideal
Ada orang yang menolak banyak kesempatan karena merasa pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan jurusannya.
Padahal pekerjaan pertama tidak harus menjadi pekerjaan terakhir.
Yang perlu dilihat adalah apakah pekerjaan tersebut memberikan:
- Pengalaman;
- Jaringan;
- Keterampilan;
- Penghasilan;
- Atau peluang berkembang.
Jika salah satunya ada, pekerjaan tersebut masih bisa memiliki nilai.
3. Mengirim CV secara massal tanpa evaluasi
Mengirim puluhan CV memang terasa produktif.
Tetapi jumlah bukan satu-satunya ukuran.
CV yang sama dikirim ke semua perusahaan tanpa penyesuaian sering kali kurang efektif.
Lebih baik memahami kebutuhan posisi lalu menyesuaikan CV dan surat lamaran dengan kemampuan yang relevan.
4. Tidak memiliki portofolio
Untuk banyak pekerjaan modern, mengatakan “saya bisa” tidak selalu cukup.
Tunjukkan.
Jika ingin bekerja sebagai penulis, buat beberapa contoh tulisan.
Jika ingin bekerja sebagai desainer, buat portofolio.
Jika ingin masuk bidang data, buat proyek analisis sederhana.
Portofolio memberikan bukti konkret mengenai kemampuan.
5. Merasa pekerjaan ojol adalah aib
Ini juga perlu diluruskan.
Tidak ada pekerjaan halal yang otomatis membuat seseorang lebih rendah daripada orang lain.
Seorang pengemudi ojol sedang melakukan pekerjaan untuk memperoleh penghasilan.
Yang perlu diperhatikan adalah apakah pekerjaan tersebut sesuai dengan kebutuhan dan rencana hidupnya.
Jika sementara, gunakan sebagai pijakan.
Jika ternyata menjadi pilihan jangka panjang, kelola secara profesional.
Yang menentukan perkembangan seseorang bukan semata-mata nama pekerjaannya, tetapi bagaimana ia menjalani dan mengembangkan kehidupannya.
Cara Membangun Kebiasaan agar Tidak Terjebak dalam Situasi yang Sama
Jika seseorang sedang bekerja sebagai ojol tetapi memiliki target untuk masuk ke bidang profesional tertentu, jangan membuat perubahan ekstrem.
Gunakan pendekatan bertahap.
Langkah pertama: Tentukan tujuan karier
Jangan hanya mengatakan ingin “mendapat pekerjaan”.
Tentukan bidang yang kamu minati.
Misalnya:
“Saya ingin menjadi staf administrasi.”
“Saya ingin bekerja sebagai digital marketer.”
“Saya ingin menjadi analis data.”
Tujuan yang lebih spesifik membuat proses belajar menjadi lebih terarah.
Langkah kedua: cari tahu kemampuan yang dibutuhkan
Setelah menentukan bidang, lihat lowongan pekerjaan.
Bukan untuk langsung melamar semuanya.
Gunakan lowongan sebagai peta.
Perhatikan kemampuan yang sering diminta.
Misalnya kemampuan Excel, komunikasi, bahasa Inggris, analisis data, software tertentu, atau pengalaman menggunakan platform digital.
Catat kemampuan yang belum dikuasai.
Langkah ketiga: pilih satu kemampuan utama
Kesalahan yang sering dilakukan adalah belajar terlalu banyak hal.
Hari ini belajar desain.
Besok belajar coding.
Lusa belajar digital marketing.
Minggu berikutnya pindah ke investasi.
Akhirnya banyak yang dipelajari tetapi tidak ada yang benar-benar dikuasai.
Lebih baik memilih satu kemampuan yang paling dekat dengan target pekerjaan.
Langkah keempat: Buat jadwal realistis
Jika bekerja sebagai ojol, jangan membuat jadwal belajar lima jam setiap malam apabila tubuh sudah kelelahan.
Dua puluh sampai tiga puluh menit yang konsisten jauh lebih realistis.
Contohnya:
Senin–Jumat: 30 menit belajar.
Sabtu: dua jam membuat proyek.
Minggu: evaluasi dan memperbaiki CV.
Kebiasaan kecil yang dijalankan berulang lebih berguna daripada semangat besar yang hanya bertahan beberapa hari.
Langkah kelima: buat bukti kemampuan
Belajar tanpa menghasilkan sesuatu sering membuat seseorang sulit mengetahui kemajuannya.
Karena itu, buat proyek.
Misalnya ingin menjadi digital marketer.
Buat simulasi strategi media sosial untuk sebuah bisnis kecil.
Ingin menjadi penulis?
Buat sepuluh artikel dengan topik berbeda.
Ingin bekerja sebagai analis?
Buat analisis sederhana menggunakan data publik.
Tidak harus sempurna.
Yang penting ada sesuatu yang bisa ditunjukkan.
![]() |
| Ilustrasi : Ojek online sedang mengirimkan pesanan barang kepada konsumennya |
Contoh Nyata: Sarjana yang Menjadi Ojol Sambil Membangun Karier
Bayangkan seorang lulusan bernama Raka.
Raka lulus dari jurusan manajemen. Ia berharap setelah wisuda dapat bekerja sebagai staf perusahaan.
Selama enam bulan, Raka mengirimkan banyak lamaran.
Hasilnya mengecewakan.
Beberapa perusahaan tidak memberikan respons. Beberapa kali ia mengikuti wawancara tetapi tidak lolos.
Sementara itu, kebutuhan hidup terus berjalan.
Raka kemudian memutuskan menjadi pengemudi ojol.
Pada awalnya ia merasa malu bertemu teman-teman kuliahnya.
Ia takut dianggap gagal.
Namun setelah beberapa minggu, Raka mengubah cara pandangnya.
Ia mengatakan kepada dirinya sendiri:
“Saya sedang bekerja untuk bertahan, bukan sedang menentukan nilai diri saya.”
Ia kemudian membuat rutinitas.
Pagi hingga sore ia bekerja sebagai ojol.
Malam hari ia belajar Excel dan analisis data selama 30 menit.
Setiap akhir pekan ia membuat satu proyek sederhana.
Tiga bulan kemudian, ia sudah memiliki beberapa hasil pekerjaan yang dapat dimasukkan ke portofolio.
Enam bulan kemudian, ia kembali aktif melamar pekerjaan.
Kali ini CV-nya berbeda.
Ia tidak hanya menampilkan ijazah.
Ia juga menampilkan keterampilan dan proyek.
Akhirnya Raka mendapatkan kesempatan bekerja sebagai staf administrasi.
Cerita tersebut bukan berarti setiap sarjana yang menjadi ojol pasti akan berakhir dengan cara yang sama.
Pesannya lebih sederhana:
Pekerjaan yang sedang dijalani hari ini tidak harus menjadi batas dari masa depan seseorang.
Menjadi Ojol Bukan Berarti Gagal
Kita perlu berhenti mengukur kesuksesan seseorang hanya berdasarkan jabatan.
Ada orang yang bekerja di kantor tetapi sangat tertekan.
Ada orang yang menjadi pengemudi tetapi mampu memenuhi kebutuhan keluarga.
Ada orang yang memiliki gelar tinggi tetapi masih mencari arah.
Ada pula orang yang memulai dari pekerjaan sederhana kemudian menemukan bidang yang benar-benar cocok.
Karier bukan perlombaan dengan garis start yang sama.
Setiap orang memiliki kondisi keluarga, ekonomi, kemampuan, jaringan, kesempatan, dan tantangan yang berbeda.
Karena itu, kita perlu berhati-hati ketika melihat seseorang dengan gelar sarjana sedang mengemudi motor.
Kita tidak tahu cerita di balik helmnya.
Mungkin ia sedang membantu orang tua.
Mungkin sedang membayar cicilan.
Mungkin sedang mengumpulkan modal.
Mungkin sedang menunggu pekerjaan.
Mungkin memang memilih fleksibilitas.
Atau mungkin ia menemukan bahwa pekerjaan tersebut justru lebih sesuai dengan kehidupannya.
Apa yang Bisa Dipelajari dari Fenomena Ini?
Fenomena sarjana menjadi ojol memberikan beberapa pelajaran penting.
Pendidikan penting, tetapi tidak berhenti di ijazah
Kuliah memberikan dasar.
Setelah lulus, seseorang tetap perlu belajar.
Dunia kerja menuntut pembaruan kemampuan.
Jangan menggantungkan identitas pada pekerjaan
Pekerjaan adalah bagian dari kehidupan, bukan keseluruhan identitas.
Kehilangan pekerjaan bukan berarti kehilangan harga diri.
Begitu pula bekerja di profesi yang tidak sesuai dengan jurusan bukan berarti pendidikan yang ditempuh sia-sia.
Fleksibilitas menjadi semakin penting
Karier modern tidak selalu berjalan lurus.
Seseorang mungkin bekerja di perusahaan, kemudian menjadi freelancer, membangun usaha, mengikuti proyek, lalu kembali bekerja formal.
Kemampuan beradaptasi menjadi aset.
Jangan malu memulai dari bawah
Banyak orang terlalu takut terlihat gagal sehingga tidak mau mengambil pekerjaan sementara.
Padahal mengambil pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup bukan sesuatu yang memalukan.
Yang perlu dijaga adalah arah.
Jika pekerjaan tersebut hanya sementara, tetap siapkan langkah berikutnya.
Cara Menjadikan Pekerjaan Sementara sebagai Batu Loncatan
Jika Anda sedang berada dalam pekerjaan yang sebenarnya bukan tujuan utama, jangan hanya bertanya:
“Kapan saya bisa keluar dari pekerjaan ini?”
Coba ubah menjadi:
“Apa yang bisa saya bangun selama berada di sini?”
Pertanyaan tersebut menghasilkan pendekatan yang berbeda.
Anda bisa membangun tabungan.
Membangun jaringan.
Belajar keterampilan baru.
Membangun portofolio.
Memahami dunia bisnis kecil.
Belajar berkomunikasi dengan banyak karakter manusia.
Bahkan pekerjaan sebagai ojol dapat mengajarkan sesuatu yang tidak selalu diperoleh di ruang kelas.
Seperti mengatur waktu, menghadapi pelanggan, memahami wilayah, mengelola pendapatan, menjaga kendaraan, dan mengambil keputusan cepat.
Semua pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan hidup.
Jangan Membandingkan Jalan Hidup
Media sosial membuat kehidupan orang lain terlihat jauh lebih rapi.
Teman kuliah sudah bekerja di perusahaan besar.
Teman lain sudah menikah.
Ada yang membeli rumah.
Ada yang membuka bisnis.
Sementara kita masih bekerja dari satu pesanan ke pesanan berikutnya.
Perbandingan seperti itu mudah membuat seseorang merasa tertinggal.
Padahal kita hanya melihat hasil akhirnya.
Kita tidak melihat tekanan, utang, kegagalan, konflik keluarga, atau perjalanan panjang di belakangnya.
Karier bukan perlombaan siapa yang paling cepat.
Yang lebih penting adalah apakah seseorang terus bergerak menuju kehidupan yang ingin dibangun.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
1. Apakah sarjana menjadi ojol berarti gagal dalam karier?
Tidak.
Menjadi ojol adalah sebuah pekerjaan yang halal.
Seseorang bisa memilihnya karena kebutuhan ekonomi, fleksibilitas, atau alasan lainnya.
Kesuksesan karier tidak bisa dinilai hanya dari profesi yang sedang dijalani.
2. Mengapa sarjana sulit mendapatkan pekerjaan?
Penyebabnya beragam, mulai dari persaingan pelamar yang tinggi, ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan perusahaan, kurangnya pengalaman, lokasi pekerjaan, hingga kondisi ekonomi dan jumlah lowongan yang tersedia.
3. Apakah kuliah menjadi sia-sia jika akhirnya menjadi ojol?
Tidak otomatis.
Pendidikan tetap memberikan pengetahuan, pola berpikir, pengalaman sosial, dan dasar kemampuan.
Nilainya akan semakin terasa ketika seseorang mampu menghubungkan pendidikan tersebut dengan keterampilan dan pengalaman praktis.
4. Apakah pekerjaan ojol bisa dijadikan pekerjaan sementara?
Tentu saja bisa.
Bagi sebagian orang, pekerjaan tersebut dapat menjadi sumber pemasukan sambil mencari pekerjaan lain atau membangun usaha dan keterampilan.
5. Apa yang sebaiknya dilakukan sarjana yang belum mendapatkan pekerjaan?
Jangan hanya menunggu tawaran pekerjaan.
Evaluasi CV, tingkatkan keterampilan yang relevan, bangun portofolio, perluas jaringan, cari pengalaman, dan tetap melamar pekerjaan secara terarah.
6. Apakah harus bekerja sesuai jurusan kuliah?
Tidak selalu.
Jurusan kuliah dapat menjadi dasar, tetapi seseorang bisa mengembangkan karier di bidang lain selama memiliki kemampuan yang dibutuhkan.
7. Bagaimana jika sudah terlalu lama menganggur?
Mulailah dari hal yang bisa dikendalikan.
Bangun rutinitas, pelajari keterampilan yang relevan, ambil pekerjaan sementara jika diperlukan, dan buat target pencarian kerja yang realistis.
8. Apakah usia menjadi penghalang untuk memulai karier baru?
Usia dapat memengaruhi beberapa kesempatan, tetapi bukan berarti perubahan karier mustahil. Pengalaman, keterampilan, jaringan, dan kemampuan beradaptasi juga memiliki nilai.
9. Lebih baik menunggu pekerjaan sesuai jurusan atau mengambil pekerjaan apa saja?
Tidak ada jawaban yang sama untuk semua orang.
Jika kebutuhan ekonomi mendesak, pekerjaan sementara dapat menjadi pilihan rasional.
Namun jika kondisi memungkinkan, tetap gunakan waktu untuk mencari posisi yang sesuai dengan tujuan jangka panjang.
10. Apa pelajaran terbesar dari fenomena sarjana menjadi ojol?
Bahwa gelar bukan akhir perjalanan pendidikan dan pekerjaan pertama bukan penentu seluruh masa depan.
Pada akhirnya, pertanyaan “mengapa sarjana banyak menjadi ojol?” seharusnya tidak digunakan untuk merendahkan siapa pun.
Pertanyaan tersebut justru membuka pembicaraan yang lebih penting tentang bagaimana seseorang mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja yang terus berubah.
Gelar tetap penting, tetapi gelar membutuhkan pasangan: keterampilan, pengalaman, kemampuan beradaptasi, kemauan belajar, dan keberanian untuk memulai.
Bagi sarjana yang sedang menjadi ojol, jangan merasa seluruh perjalanan pendidikan Anda sia-sia hanya karena pekerjaan hari ini tidak sesuai dengan jurusan.
Dan bagi mereka yang sedang mencari pekerjaan, jangan terlalu sibuk menjaga gengsi sampai lupa menjaga kehidupan.
Kadang-kadang kita memang harus mengambil jalan yang tidak pernah direncanakan.
Tidak masalah.
Yang penting, jangan berhenti menentukan ke mana langkah berikutnya akan diarahkan.
Sebab pekerjaan yang sedang Anda jalani hari ini mungkin hanya satu bagian kecil dari perjalanan yang jauh lebih panjang.
Kesimpulan
Fenomena sarjana menjadi ojol tidak dapat dijelaskan hanya dengan mengatakan bahwa lulusan perguruan tinggi gagal mendapatkan pekerjaan.
Ada banyak faktor di belakangnya, seperti persaingan tenaga kerja, kebutuhan ekonomi, kurangnya pengalaman, perubahan kebutuhan industri.
Serta ketidaksesuaian antara kemampuan lulusan dan posisi yang tersedia.
Menjadi ojol juga tidak otomatis berarti kegagalan.
Bagi sebagian orang, pekerjaan tersebut merupakan solusi untuk mendapatkan penghasilan.
Bagi yang lain, mungkin menjadi pekerjaan yang dipilih karena fleksibilitasnya.
Hal terpenting adalah bagaimana seseorang menggunakan kondisi tersebut.
Jika pekerjaan saat ini belum sesuai dengan tujuan, jadikan ia pijakan untuk membangun keterampilan, pengalaman, tabungan, dan jaringan.
Jangan biarkan sebuah pekerjaan menentukan seluruh nilai diri Anda.
Karier adalah perjalanan. Ada orang yang jalannya lurus, ada yang berbelok, dan ada yang harus berhenti sebentar sebelum melanjutkan perjalanan.
Tidak semua orang sampai di tujuan dengan kendaraan yang sama.
Yang penting adalah terus belajar, terus bergerak, dan tetap berani memperbaiki arah ketika diperlukan.
Ditulis oleh : Syamsul Anhar
Penulis & Pengelola AnharMedia


Posting Komentar